Unggulan

PERPISAHAN DIUJUNG MUARA


Karya: Bintang[R]

Banten, 28 Desember 2025



sore hari, di tepi muara yang luas. 

Air sungai bertemu dengan laut, warna coklat muda bersatu dengan biru gelap. 

Matahari terbenam menyebarkan cahaya kemerahan di langit. 

Dua sosok berdiri berdampingan, tapi jarak hati mereka terasa jauh. 

Di tangan Lira, ada sehelai kain batik tua yang kusut.

 


LIRA:

Lihatlah, Raihan.

sungai ini tahu jalan keluarnya.

Mencari laut yang lebih luas, meskipun harus meninggalkan dan semua pohon yang menanti di tepiannya...


Raihan ini kain yang kau berikan padaku, waktu kita pertama kali datang ke sini. 

Dan kau katakan, 

"ini untukmu, agar selalu ada bagianku di dekatmu."

 

RAIHAN:

Aku ingat Lira. 

Kau memakainya saat hujan turun, dan kita bersembunyi di bawah pohon beringin.


Kau tertawa dan bilang, 

"aku ingin tinggal di sini selamanya denganmu, di antara sungai dan laut."

 

LIRA:

Di ujung muara ini, semua air lupa asal-usulnya.

Apakah kita juga akan lupa?

lupa bagaimana kita bertemu di bawah hujan,

lupa suaramu yang menyapa pagiku dengan lagu yang tidak pernah kau kuasai,

lupa cahaya matamu yang menyinari hari-hariku bahkan ketika langit mendung.

 

RAIHAN:

Tidak akan pernah aku lupa. 

Tapi ingat, Lira:

muara adalah tempat bertemu, tapi juga tempat berpisah.

Sungai harus menemukan lautnya 

dan aku, aku harus menjejak jalan baru yang tak akan pernah menyentuh tempat ini lagi.


Aku tidak bisa membuatmu menunggu di tepian yang hanya bisa memberi harapan yang sia-sia, lira.

 

LIRA

Jadi, ini adalah akhir? 

seperti matahari yang tenggelam,

tinggalkan kegelapan yang hanya bisa diisi dengan kenangan yang semakin pudar?

Kau akan pergi, dan aku akan tetap di sini menyusun kenangan seperti pasir yang terus terbawa ombak?

 

 

RAIHAN:

Tidak, ini bukan akhir Lira.

Ini adalah titik temu baru 

tapi, kita tidak bisa jalan bersama lagi.

Sungai tidak hilang di laut, ia menjadi bagian dari laut.

Kamu akan selalu ada di dalam diriku, seperti air sungai yang berada di dalam laut. 

Tapi aku, aku tidak bisa menjadi sungai mu yang hanya mengalir ke satu tempat, Lira.

 

LIRA:

Tapi aku ingin menyentuhmu, mendengar suaramu di dekatku, Raihan!

Bukan hanya menyimpanmu di dalam hati yang sepi dan kosong!

Aku ingin kita menjadi seperti pohon beringin itu, tetap berdiri di tepian, bersama-sama, walau hujan turun berkali-kali!

 

RAIHAN:

Di ujung muara ini, kita harus melepaskan.

Karena jika kita memegangnya terlalu erat,

kita akan tenggelam bersama dengan arus yang kuat.

Biarkan aku pergi, Lira

biarkan aku menjadi angin yang menyapa muara ini,

setiap hari, setiap malam, meskipun kau tidak melihatku. Dan biarkan kain itu pergi juga, biarkan ia menyebar di laut, sebagai tanda bahwa kita pernah ada.

 

LIRA:

Baiklah, Raihan. 

Aku akan melepaskan.

Tapi janjimu, janji bahwa kau akan ingat,

bahwa di ujung muara ini, pernah ada dua orang yang mencintai dengan sepenuh hati,

seperti sungai yang mencintai laut meskipun tahu akan hilang di dalamnya.

 

RAIHAN:

Aku janji, Lira. 

Dan kau juga berjanji bahwa kau akan bersinar,

seperti matahari terbenam yang menyinari muara ini.

Jangan biarkan kesedihan menyelimutimu selamanya. Jadilah laut yang luas, terima semua sungai yang datang, tapi jangan lupa bahwa pernah ada satu sungai yang mencintaimu lebih dari apapun.

 

LIRA:

Selamat jalan, sungai ku. Selamat tinggal, cintaku.

Di ujung muara ini, kita berpisah, tapi di hati, kita selalu bersama.


Dan aku akan menjadi laut yang luas menunggu anginmu yang selalu datang.

Komentar

Postingan Populer