Karya: Bintang[R]
Banten, 18 September 2025
Sejak terlahir, bahtera kita melayang di samudra kehidupan—mimpi terajut dari benang cahaya bintang, janji terukir di cakrawala jiwa yang luas. Engkaulah bintang penuntun setia, yang bersinar kala badai membelah sukma.
Tetapi hadir dia: mentari yang muncul di taman hati yang sunyi sepanjang zaman. Seketika, ia membakar jiwa beku jadi abu—semangat yang mati kini membara seperti api musim gugur. Takdir monokrom berubah jadi pelangi dusta, seolah lukisan indah yang ternoda oleh lumpur nestapa. Kau saksi bisu, merasakan hatiku yang pilu. Kini taman cinta bersemi duri: setiap detak jantung adalah pecahan kaca yang menghancurkan rindu yang tak punya batas.
Waktu adalah sungai keruh yang mengalirkan nanah pengkhianatan. Persahabatan bertopeng, menikam dengan keji—seperti serigala yang mengenakan bulu domba. Tatapanmu melesat bagai belati, senyummu adalah pintu menuju neraka, sentuhanmu bisa yang mematikan. Engkaulah iblis yang merobek kanvas kebahagiaan, bayangan malam yang mencengkeram jiwa, laksana tanaman parasit yang melilit pohon kehidupan kita.
Aku berjuang melawan badai dalam diri, tapi bisikan setan menyeretku ke jurang kesengsaraan yang dalam. Palu takdir meremukkan istana pasir yang kurajut dengan tanpa ampun, hancur jadi debu yang terbawa angin. Ketika kulihat kau berdua menari di atas pusaraku, altar suci janji abadi ternodai—seperti kain putih yang dilumuri darah pengkhianatan yang hangat.
Duniaku adalah kapal karam yang tenggelam: harapan telah lenyap seperti asap. Jiwaku adalah layar koyak yang tak berdaya melawan hembusan pengkhianatanmu. Kau bukan mercusuar yang menuntun, melainkan tusukan yang muncul dari kegelapan—merampas kepercayaan dan membakar hangus masa depan seperti api yang melahap hutan harapan.
Air mata lahar membakar setiap kenangan pahit; janji-janji kita kini menjadi bangkai yang membusuk di lautan kesedihan. Kau bukan lagi nahkoda yang kusayangi, pun sahabat yang kupercayai—melainkan pengkhianat yang menghantui setiap detik, bagai hantu yang bergentayangan di setiap sudut ingatanku.
Kini aku berdiri sendiri di pantai kehancuran, mencoba merangkai kembali jiwa yang tercabik-cabik—seperti serpihan cermin yang berserakan di pasir. Waktu mungkin akan mengeringkan luka di kulit, tapi kepercayaan telah terkubur jadi fosil di dasar lautan amarah yang tak bertepi. Kau telah memilih jalanmu sendiri: jalan yang dipenuhi nista dan penyesalan.
Semoga kau berbahagia dengan cinta yang kau curi. Tapi jangan pernah lupa: karma adalah algojo yang tak pernah berhenti berputar. Ia pasti akan datang menjemputmu, menyeretmu ke dasar neraka abadi—dimana rantai besi penyesalan akan mengikatmu selamanya.
Komentar
Posting Komentar