Langsung ke konten utama

Unggulan

PERPISAHAN DIUJUNG MUARA

Karya: Bintang[R] Banten, 28 Desember 2025 sore hari, di tepi muara yang luas.  Air sungai bertemu dengan laut, warna coklat muda bersatu dengan biru gelap.  Matahari terbenam menyebarkan cahaya kemerahan di langit.  Dua sosok berdiri berdampingan, tapi jarak hati mereka terasa jauh.  Di tangan Lira, ada sehelai kain batik tua yang kusut.   LIRA: Lihatlah, Raihan. sungai ini tahu jalan keluarnya. Mencari laut yang lebih luas, meskipun harus meninggalkan dan semua pohon yang menanti di tepiannya... Raihan ini kain yang kau berikan padaku, waktu kita pertama kali datang ke sini.  Dan kau katakan,  "ini untukmu, agar selalu ada bagianku di dekatmu."   RAIHAN: Aku ingat Lira.  Kau memakainya saat hujan turun, dan kita bersembunyi di bawah pohon beringin. Kau tertawa dan bilang,  "aku ingin tinggal di sini selamanya denganmu, di antara sungai dan laut."   LIRA: Di ujung muara ini, semua air lupa asal-usulnya. Apakah kita juga akan lupa? ...

BERLABUH DI KEHENINGAN


Karya: Cita

Jakarta, 30 juni 2025



Perkenalkan, aku adalah hati yang memilih berlabuh di pulau sunyi. Keputusan ini terukir dari pahatan pengalaman getir serta kekecewaan yang merajam. Bukan karena tak ada perahu yang sudi merapat atau nahkoda yang menawarkan pelayaran, tetapi karena jiwaku telah mencapai tepian jenuh. Aku muak dengan gemuruh ombak dunia yang sering kali menyisakan buih hampa dan fatamorgana palsu. Oleh karena itu, aku lebih mendamba kedamaian dalam kesendirian daripada terombang-ambing dalam riuhnya samudra kehidupan yang menyesakkan.

 

Dahulu, ketika dermaga hatiku masih terbuka bagi siapa saja, berbondong-bondong kapal datang bertamu, melabuhkan jangkar harapan, dan mengumbar janji setia. Dengan lugunya, kucoba menerima satu demi satu, berharap menemukan pelaut sejati yang mampu memahami bahasa kalbuku. Akan tetapi, tanpa badai asmara yang menggelegar, tanpa gelombang empati yang menyentuh relung jiwa, mereka hanyalah persinggahan sementara. Ini adalah upaya sia-sia untuk mengisi kekosongan yang semakin menganga di tengah lautan kesepian.

 

Hingga pada suatu senja, sakit kurasa mencintai tanpa kompas, dan memaksakan diri untuk berlayar ke arah yang tak kutuju. Kini, setelah diterjang badai kehidupan dan karamnya impian, kusadari bahwa hatiku tak bisa dipaksa berlayar ke pelabuhan yang tak kurindukan. Ia telah membatu karang, bukan karena keangkuhan atau kesombongan, melainkan sebagai perisai diri terhadap luka yang terlalu menganga, kehilangan bahtera yang membekas kelam dan sulit disembuhkan.

 

Kini, setelah membangun mercusuar tinggi di atas pulau hatiku, sulitnya bukan main untuk memadamkan cahayanya kembali. Begitu banyak kapal datang menawarkan cinta dan kehangatan, mencoba menembus karang terjal yang melindungiku. Sayangnya, tak satu pun dari mereka mampu bertahan dalam terpaan ombak keraguan, dan tak satu pun mampu menyentuh inti hatiku yang terluka. Aku terlalu takut untuk berlayar kembali serta merasakan hempasan badai yang sama untuk kesekian kalinya. Aku lebih memilih untuk tetap menjaga nyala mercusuarku, menanti datangnya pelaut sejati yang benar-benar tepat. Seseorang yang mampu mencintaiku dengan tulus dan apa adanya, tanpa syarat dan tanpa paksaan. Seseorang yang mampu membawaku berlayar menuju samudra kebahagiaan yang abadi.

Komentar

Postingan Populer