Unggulan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
DENDAM SI KECIL
Karya: Bintang[R]
Banten, 15 September 2024
Saat senja merayap turun, sembari lembayung senja melukis cakrawala, langit yang semula cerah berbisik pilu, seolah menuturkan kisah yang tak berkesudahan, karena semesta berduka atas luka di jiwa.
Di pojok taman sepi, ayunan renta berderit lirih ditiup angin malam, sehingga alunan sendu mengiringi nestapa sukma yang hancur, lantas terperangkap dalam pusaran kepedihan.
Akan tetapi, di antara siluet pepohonan, hadir seorang bocah kurus lemah, walaupun di balik mata kosongnya tersimpan bara yang tak padam, karena semangat juang menolak takdir kejam.
Mata sayu itu, yang seharusnya ceria, kini menatap dunia dengan tanya tanpa jawab, sebab kekecewaan berurat akar, bahkan seolah keindahan direnggut dari pandangan polosnya.
Tawa riang yang dulu memecah hening, kini hanya gema masa lalu, yakni kisah usang dalam kenangan, yang menyisakan kehampaan yang mencabik hati.
Di dada yang nyeri, dendam membara, membakar darah, hingga luka menganga tak tersembuhkan menuntut balas air mata yang tak terkendali.
Dunia kecilnya luluh lantak, ketika mainan direnggut paksa, dan mimpi indah dipangkas tanpa ampun, sehingga meninggalkan puing harapan berserakan.
Semua dilakukan tangan kejam tak berhati nurani, tanpa iba atau sesal, sebab kalbu mereka bagai batu karang, yang acuh pada penderitaan yang diciptakan dengan bengis.
Meskipun demikian, dari genangan air mata, sang bocah bangkit perlahan pasti, mengumpulkan fragmen kekuatan, serta menolak terpuruk dalam kesedihan.
Dalam sunyi malam kelam, siasat dirajut, di mana pikiran menjadi strategi, karena dendam bukan lagi beban, melainkan senjata menghunus keadilan yang tertunda.
Dengan langkah kecil namun yakin, ia menyusuri lorong gelap misteri, sebab setiap jejak adalah janji, dan tatapannya adalah tekad yang tak tergoyahkan.
Keadilan, bisiknya dalam kalbu, pasti tiba, karena kata-kata itu mantra yang menguatkan, dengan tekad membara takkan padam, untuk mengukir janji di setiap tarikan napas.
Ayunan renta itu, saksi bisu berbagi tawa, kini berdendang lirih, sembari mengamati langkah sang bocah dengan harapan membuncah.
Mungkin keadilan fatamorgana di gurun nestapa, bagaikan ilusi yang sulit digapai, namun semangatnya takkan padam, menuntunnya melewati kegelapan yang pekat.
Di bawah rembulan pucat, janji terukir dalam hening, sebagai sumpah tak terucap yang mengikat erat di lubuk hati, guna mencari kebenaran yang tersembunyi di balik tabir kepalsuan.
Setiap tetes air mata menemukan pembalasan, sementara luka di jiwanya mulai terobati, sehingga meninggalkan bekas perjuangan yang tak kenal lelah.
Sang bocah terus melangkah maju, tak gentar, sambil menggenggam bara keadilan, guna menjadikannya lentera di jalan gelap berduri.
Ia berjalan teguh menuju fajar keadilan, untuk mewujudkan mimpi yang terluka, serta mengembalikan senyum yang hilang, demi membangun kembali harapan yang hancur.
Perlahan bayang dendam menghilang, sirna ditelan cahaya kemenangan, lalu digantikan senyum tulus yang memancarkan kedamaian, dan membebaskannya dari belenggu masa lalu.
Dan kisah bocah pemberani itu, bersama ayunan setianya, terukir abadi dalam ingatan, sebagai legenda tentang ketabahan, keadilan, dan harapan yang tak pernah mati, serta menginspirasi jiwa-jiwa yang mendambakan keadilan dan kedamaian.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Postingan Populer
RINDU YANG TAK PERNAH AKAN PULANG
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar