Langsung ke konten utama

Unggulan

PERPISAHAN DIUJUNG MUARA

Karya: Bintang[R] Banten, 28 Desember 2025 sore hari, di tepi muara yang luas.  Air sungai bertemu dengan laut, warna coklat muda bersatu dengan biru gelap.  Matahari terbenam menyebarkan cahaya kemerahan di langit.  Dua sosok berdiri berdampingan, tapi jarak hati mereka terasa jauh.  Di tangan Lira, ada sehelai kain batik tua yang kusut.   LIRA: Lihatlah, Raihan. sungai ini tahu jalan keluarnya. Mencari laut yang lebih luas, meskipun harus meninggalkan dan semua pohon yang menanti di tepiannya... Raihan ini kain yang kau berikan padaku, waktu kita pertama kali datang ke sini.  Dan kau katakan,  "ini untukmu, agar selalu ada bagianku di dekatmu."   RAIHAN: Aku ingat Lira.  Kau memakainya saat hujan turun, dan kita bersembunyi di bawah pohon beringin. Kau tertawa dan bilang,  "aku ingin tinggal di sini selamanya denganmu, di antara sungai dan laut."   LIRA: Di ujung muara ini, semua air lupa asal-usulnya. Apakah kita juga akan lupa? ...

GARUDA DAN INDONESIAKU

GARUDA DAN INDONESIAKU

Karya: BINTANG[R] & ORIZA FRADIBA

Banten-Pekanbaru, 26 Agustus 2025

 


Indonesiaku, tanah air pusaka,

Merdeka dalam cita, jaya dalam asa.

Garudaku, lambang perkasa,

Sehat sentosa, gagah di angkasa.

Kegagahanmu adalah simbol abadi negeri ini,

Indonesia, yang kucintai sepenuh hati.

 

Apakah kalian tahu, wahai saudara?

Negeri ini kaya, alamnya mempesona,

Sumber daya melimpah, tak terhingga,

Sehingga seharusnya makmur, sejahtera sentosa.

Dengan 286 juta jiwa yang menanti,

Maka kesejahteraan merata, tanpa terperi.

Namun, mengapa kini terjadi begini?

 

Tuan, wahai pemimpin negeri,

Tidakkah kau lihat, garuda kami berduka?

Menahan sakit yang teramat sangat,

Sebab diserang dari segala arah, tanpa ampun.

Teriakan kepedihan tertahan di dada,

Bahkan hampir pecah paru-paru, merobek sukma.

Darah dan air mata mengalir deras,

Akibat bulu-bulu sayap yang dilucuti paksa,

Hingga ia tak mampu lagi terbang tinggi,

Menjelajahi angkasa, bebas bersemi.

 

Tuan, kami hanya ingin melihat,

Garuda kami terbang dengan gagah,

Mengangkasa tinggi, menari riang,

Serta memamerkan keindahan dan keperkasaan,

Yang menjadi kebanggaan seluruh bangsa.

Kau juga bisa ikut terbang bersamanya, bukan?

Asalkan tanpa mencelakai, tanpa menyakiti,

Bukankah kita bisa menari bersama,

Dalam harmoni, damai sentosa?

Biarkanlah ia terbang menembus cakrawala,

Dengan sayap-sayap kokoh yang membentang,

Dan menghiasi langit dengan pesona yang memukau.

 

Tuan, aku menyaksikan dengan pilu,

Garuda kini terluka parah, merana,

Karena kelakuan kalian yang tak bertanggung jawab.

Lukanya kronis, sulit disembuhkan,

Bahkan menyebar racun ke seluruh tubuhnya.

Hentikan tangan-tangan jahat itu,

Yang terus melucuti bulu-bulunya dengan keji,

Agar para tikus berdasi berhenti menggerogoti,

Dari syaraf hingga ke pembuluh darahnya,

Menghancurkan harapan, merenggut asa.

 

Tuan, di tanganmu lah kami memohon,

Bantuan dan keadilan, yang menjadi harapan terakhir.

Mari bersama mencari penawarnya,

Obat mujarab untuk menyembuhkan luka,

Agar tak terdengar lagi kidung elegi,

Tembang ironi yang menyayat hati,

Seakan garuda akan binasa esok pagi,

Dan meninggalkan duka mendalam bagi negeri.

 

Tuan, lihatlah jauh ke belakang,

Apa yang menjadi sebab sekaratnya garuda,

Yang kini berdarah-darah dan penuh luka,

Karena fitnah yang gencar disebar-luaskan,

Serta kebohongan yang meracuni pikiran.

Jangan cepat berasumsi, terpengaruh opini,

Bila pandanganmu hanya tertuju pada satu arah saja,

Melainkan lihatlah kebenaran yang tersembunyi.

 

Bukalah matamu! Lihatlah dengan jernih!

Bukalah hatimu! Rasakan penderitaannya!

Bukalah rantai yang membelenggu dan menyiksa langkahnya.

Ia takkan bisa menghadapi ini sendirian,

Sebab ia butuh dukungan, butuh uluran tangan.

Tuan lah tonggak yang akan menyangga dirinya,

Untuk terus berdiri, tegar menghadapi badai,

Berusaha kembali terbang tinggi ke angkasa,

Mengepakkan sayap indah dengan gagah perkasa,

Serta pesonanya yang selalu menggetarkan dunia.

 

Tuan, dengarlah seruan ini,

Tuan, sadarlah dari khilaf ini,

Tuan, bertindaklah sekarang juga!

Sudah hentikan!! Cukup sudah!!

Jangan teruskan tangan kalian,

Untuk melucuti bulu sang garuda.

Melainkan, pergunakan tangan-tangan kalian,

Untuk hal yang lebih baik dan mulia,

Bagi dirimu, keluargamu, dan seluruh dunia.

Maka sudahi lah semua ini, hentikanlah!

 

Hentikan aksi keji kalian,

Dan biarkan garudaku mengepakkan sayapnya,

Dengan bebas, tanpa ada yang menghalangi.

Sehingga Indonesiaku aman sentosa,

Makmur sejahtera, adil dan berbudaya.

Indonesia jaya! Garuda perkasa!

Abadi selamanya!

Komentar

Postingan Populer