Unggulan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
GEMA AIR MANCUR ANTARA JANJI DAN LUKA
Karya: Tritan & Bintang[R]
Bandung, 14 September 2025
🧒Tritan: (Dengan ragu) Dewi....
🧑Dewi: (Terkejut namun lembut) Tritan...
🧒Tritan: Apa kabar? Lama tak jumpa. Rasanya seperti mimpi bisa bertemu lagi setelah sekian lama. Waktu seolah berhenti berputar sejak terakhir kita bertemu.
🧑Dewi: Baik, Tan. Kamu sendiri? Tak kusangka bertemu di sini. Sudah sangat lama, ya? Tempat ini... masih sama seperti dulu. Tapi kita sudah banyak berubah.
🧒Tritan: (Hening sejenak) Kabarku... rumit. Ada yang mengganjal di hati dan pikiranku sejak kamu pergi. Sulit dijelaskan dengan kata-kata, tapi rasanya seperti beban berat yang terus menekan.
🧑Dewi: Mengganjal? Apa itu? (Khawatir) Sedang tidak terlalu sibuk kan? Ada waktu bicara? Mungkin kita cari tempat yang lebih tenang? Aku ingin mendengar semuanya.
🧒Tritan: Tentu. Mari ke air mancur. Bisa berteduh dan bicara lebih tenang.
(Dewi dan Tritan berjalan ke air mancur. Suara air mengiringi percakapan)
🧑Dewi: Jadi, apa yang mengganjal?
🧒Tritan: (Menghela napas) Sejak kau pergi tanpa penjelasan, hidupku berubah. Arahku hilang, hari-hari terasa hampa dan sepi. Aku coba cari penggantimu, tapi tak ada yang bisa isi kekosongan ini.
🧑Dewi: (Menyesal) Maafkan aku, Tan. Bukan maksudku begitu, tapi... ini yang terbaik. Keadaan memaksa. Aku tahu kata maaf tak cukup, tapi aku benar-benar menyesal membuatmu seperti ini. Harap kamu bisa mengerti situasiku saat itu.
🧒Tritan: Terbaik? Apa harus perasaanku yang jadi korban? Kenapa harus aku yang tanggung semua ini? Kenapa tidak coba cari jalan keluar lain?
🧑Dewi: (Membantah) Bukan begitu. Kuharap kau mengerti. Kakakku... dia memaksaku. Aku tak mau terus bertengkar dengannya. Dia selalu ikut campur, dan kali ini dia bikin aku tak punya pilihan. Aku tahu sulit dipercaya, tapi itu kenyataannya.
🧒Tritan: (Dengan nada terluka) "Walau kita berakhir, kita tetap dekat seperti dulu." Ingat janji itu? Hanya omong kosong belaka kan? Kamu bahkan tidak berusaha menepatinya.
🧑Dewi: (Menunduk) Aku ingat, Tan. Tak pernah lupa. Tapi sulit... sangat sulit. Setiap hari aku coba hubungimu, tapi selalu ada halangan. Kakakku selalu mengawasiku, tak ada kesempatan bicara.
🧒Tritan: (Sarkastis) Sampai memblokir semua komunikasi? Media sosialku juga? Kamu benar-benar mau hapusku dari hidupmu ya? Seolah aku tak pernah ada.
🧑Dewi: (Panik) Itu bukan aku! Kakakku yang melakukannya. Dia pegang semua akunku. (Mencoba menjelaskan) Tan, kau tahu apa yang sudah...
🧒Tritan: (Memotong) Aku coba membencimu, Dewi. Agar bisa melupakanmu — bahwa kau satu-satunya yang kuharapkan. Aku coba cari kebahagiaan lain, tapi hatiku selalu kembali padamu. Kamu satu-satunya wanita yang aku cintai.
🧑Dewi: (Hampir menangis) Aku tahu ini berat. Aku juga hancur setiap hari. Itu juga beban bagiku. Aku selalu pikirkanmu, Tan. Setiap malam aku berdoa agar kamu bahagia, meskipun tanpa aku.
🧒Tritan: (Dengan nada getir) Bebanmu tak sebanding dengan hancurnya duniaku. Kau pergi, hilang, tanpa jawaban. Apa kau tahu rasanya? Rasanya seperti kehilangan separuh jiwaku. Aku merasa kosong dan tak berarti.
🧑Dewi: (Menangis) Aku tahu, Tan. Sangat tahu. Tapi aku tak punya pilihan. Kakakku mengancam... akan melakukan hal buruk jika aku tak menurut. Dia ancam akan menyakitimu jika aku tetap berhubungan. Aku tak bisa biarkan itu terjadi.
🧒Tritan: (Bingung) Hal buruk? Kenapa tak pernah cerita? Kenapa tak cari jalan lain? Aku ada untukmu! Kita bisa hadapi ini bersama. Kenapa kamu harus pikul semua beban sendiri?
🧑Dewi: (Ketakutan) Aku takut, Tan. Sangat takut. Aku tak ingin melibatkanmu. Kupikir menjauhimu akan melindungimu. Aku salah, ya? Bodoh karena berpikir bisa selesaikan masalah ini sendiri. Seharusnya mempercayaimu dan minta bantuan.
🧒Tritan: (Kecewa) Salah besar. Kau menghancurkanku. Sekarang, setelah sekian lama, kau muncul dan menyalahkan kakakmu? Aku tak tahu apa yang harus kupercaya. Rasanya seperti dipermainkan. Kamu datang dan pergi sesuka hatimu, tanpa pikirkan perasaanku.
🧑Dewi: (Memohon) Aku mengerti jika kau sulit percaya. Aku hanya ingin kau tahu... perasaanku padamu tak pernah berubah. Aku selalu mencintaimu. Meskipun waktu berlalu, cintaku tetap sama. Tak pernah berhenti.
🧒Tritan: (Sinikal) Mencintaiku? Lalu kenapa tak berjuang? Kenapa biarkan dia kendalikan hidupmu dan hancurkan kebahagiaan kita? Cinta apa itu jika kamu tidak berani memperjuangkannya? Apakah kamu benar-benar mencintaiku?
🧑Dewi: (Putus asa) Aku tak sekuat itu, Tan. Aku coba, tapi dia terlalu kuat. Aku tak ingin kehilangan keluargaku juga. Aku terjebak... di antara dua pilihan sulit. Tak tahu harus berbuat apa.
🧒Tritan: (Frustrasi) Jadi, sekarang apa? Setelah semua ini, kau ingin aku percaya lagi? Bagaimana bisa aku mempercayaimu setelah semua kebohongan ini? Pikir aku sebodoh itu?
🧑Dewi: (Memelas) Aku tak minta langsung percaya. Hanya ingin menjelaskan. Aku merindukanmu, Tritan. Sangat merindukanmu. Setiap malam aku memimpikanmu — senyummu, tawamu, semua tentangmu.
🧒Tritan: (Dengan nada dingin) Merindukanku? Kata-kata itu tak ubah apa pun. Hanya omong kosong belaka. Kamu tidak bisa perbaiki semua ini dengan kata-kata saja.
🧑Dewi: (Bertekad) Aku tahu kata-kata tak cukup. Aku menyesal. Bersedia melakukan apa saja untuk memperbaikinya — mendapatkan maafmu dan membuktikan cintaku.
🧒Tritan: (Menantang) Melakukan apa saja? Melawan kakakmu? Memperjuangkan cinta kita? Apakah kamu benar-benar serius? Berani menghadapi semua konsekuensinya?
🧑Dewi: (Menunduk, menangis) Aku... tak tahu apakah aku bisa. Dia sangat keras kepala. Aku takut apa yang akan dia lakukan — menyakiti kamu atau keluargaku. Aku tak ingin itu terjadi.
🧒Tritan: (Kecewa) Jadi, kau masih pilih dia? Masih biarkan dia kendalikanmu? Lebih pilih keluargamu daripada aku? Apakah aku tidak berarti apa-apa?
🧑Dewi: (Membantah) Tidak! Aku hanya butuh waktu untuk memikirkannya — cari cara bersamamu tanpa menyakiti siapa pun. Akan cari solusi tanpa mengorbankan siapa pun. Aku janji.
🧒Tritan: (Tidak sabar) Waktu? Berapa lama lagi aku harus tunggu? Menahan rasa sakit ini? Aku sudah terlalu lama menunggu. Tak tahu berapa lama lagi bisa bertahan.
🧑Dewi: (Berjanji) Aku tak tahu. Tapi aku janji, akan berusaha secepat mungkin. Cari jalan keluar. Lakukan yang terbaik untuk menemukan solusi cepat. Tak ingin kamu tunggu lebih lama.
🧒Tritan: (Skeptis) Janji? Seperti janji yang dulu? Tak tahu apakah aku bisa mempercayaimu lagi. Kamu sudah terlalu sering ingkari janji. Kenapa harus mempercayaimu kali ini?
🧑Dewi: (Memohon) Aku mengerti. Tapi tolong, beri aku kesempatan. Waktu untuk membuktikan bahwa aku pantas mendapatkanmu kembali. Mohon, berikan aku kesempatan terakhir. Aku tak akan mengecewakanmu lagi.
🧒Tritan: (Menghela napas panjang, menatap Dewi dengan tatapan sulit diartikan) Aku akan memikirkannya, Dewi. Tapi tak bisa menjanjikan apa pun. Butuh waktu untuk mencerna semua ini. Tak tahu apakah aku bisa memaafkanmu dan melupakan semua yang terjadi.
🧑Dewi: (Dengan nada penuh harap) Terima kasih, Tan. Itu sudah lebih dari cukup. Terima kasih sudah mendengarkanku. Aku sangat menghargai kejujuranmu. Akan menunggu jawabanmu dengan sabar.
(Suasana hening. Hanya suara air mancur yang terdengar — menyaksikan kegelisahan dua hati yang terluka)
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Postingan Populer
RINDU YANG TAK PERNAH AKAN PULANG
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar