Langsung ke konten utama

Unggulan

PERPISAHAN DIUJUNG MUARA

Karya: Bintang[R] Banten, 28 Desember 2025 sore hari, di tepi muara yang luas.  Air sungai bertemu dengan laut, warna coklat muda bersatu dengan biru gelap.  Matahari terbenam menyebarkan cahaya kemerahan di langit.  Dua sosok berdiri berdampingan, tapi jarak hati mereka terasa jauh.  Di tangan Lira, ada sehelai kain batik tua yang kusut.   LIRA: Lihatlah, Raihan. sungai ini tahu jalan keluarnya. Mencari laut yang lebih luas, meskipun harus meninggalkan dan semua pohon yang menanti di tepiannya... Raihan ini kain yang kau berikan padaku, waktu kita pertama kali datang ke sini.  Dan kau katakan,  "ini untukmu, agar selalu ada bagianku di dekatmu."   RAIHAN: Aku ingat Lira.  Kau memakainya saat hujan turun, dan kita bersembunyi di bawah pohon beringin. Kau tertawa dan bilang,  "aku ingin tinggal di sini selamanya denganmu, di antara sungai dan laut."   LIRA: Di ujung muara ini, semua air lupa asal-usulnya. Apakah kita juga akan lupa? ...

INI BUKAN TENTANG KONSTELASI, BUKAN PULA GALAKSI


Karya: Bintang[R]

Banten, 22 Agustus 2025


 

Hujan meteor kembali mendeklarasikan diri,

Bahkan, menyobek kelamnya kanvas malam dengan garis-garis cahaya.

Bukan sekadar mengusik tarian planet yang terpatri,

Melainkan, meruntuhkan pakem, mengubah orbit yang terpatri.

Sang penari langit tak kenal lelah, terus beraksi,

Sambil menantang atmosfer yang berbisik lirih, menahan diri.

 

Kau hadir bagai meteor yang tak terduga,

Menyisir sunyi nya semesta, tanpa permisi, tanpa diduga.

Mencipta pusaran baru di poros yang dulu membeku,

Mengubah rotasi, mengusik keseimbangan yang semu.

Aku terpaku, terhipnotis bias cahayamu,

Dari kedalaman mata, memantulkan langit yang pilu,

Namun, kurung hampa masih setia membelenggu,

Mengikat jiwa dalam hampa, bak orbit yang tak terlampaui.

 

Pesona dirimu adalah candu yang menggoda,

Sayangnya, fokusku terkunci pada lara yang meraja.

Indahnya langit malam perlahan memudar,

Digantikan gelap pekat yang berkuasa,

Menutupi ribuan bintang yang dulu bersinar,

Hingga tak terlihat dari bumi, tertelan hampa yang sama.

 

Haruskah menepi di galaksimu yang ramai,

Mencari hangat di gemerlap yang memabukkan?

Saat semestaku hening, sepi menguasai,

Sunyi merajalela, tanpa ampun, tanpa henti,

Agar semestaku ditemani gemerlap bintang,

Menemukan kembali senyum yang tersembunyi,

Setelah kucoba menyelami, memahami arti,

Nyatanya, sepi bertahta di ruang hati,

Di singgasana jiwa yang kosong dan sunyi,

Sepi berkuasa, tak tergoyahkan, abadi, gemerlap bintang pun tak mampu mengusir.

 

Tapi sayangnya...

Ini bukan tentang konstelasi, bukan pula galaksi.

Komentar

Postingan Populer