Langsung ke konten utama

Unggulan

PERPISAHAN DIUJUNG MUARA

Karya: Bintang[R] Banten, 28 Desember 2025 sore hari, di tepi muara yang luas.  Air sungai bertemu dengan laut, warna coklat muda bersatu dengan biru gelap.  Matahari terbenam menyebarkan cahaya kemerahan di langit.  Dua sosok berdiri berdampingan, tapi jarak hati mereka terasa jauh.  Di tangan Lira, ada sehelai kain batik tua yang kusut.   LIRA: Lihatlah, Raihan. sungai ini tahu jalan keluarnya. Mencari laut yang lebih luas, meskipun harus meninggalkan dan semua pohon yang menanti di tepiannya... Raihan ini kain yang kau berikan padaku, waktu kita pertama kali datang ke sini.  Dan kau katakan,  "ini untukmu, agar selalu ada bagianku di dekatmu."   RAIHAN: Aku ingat Lira.  Kau memakainya saat hujan turun, dan kita bersembunyi di bawah pohon beringin. Kau tertawa dan bilang,  "aku ingin tinggal di sini selamanya denganmu, di antara sungai dan laut."   LIRA: Di ujung muara ini, semua air lupa asal-usulnya. Apakah kita juga akan lupa? ...

KAMULAH BENCANA YANG MENCANDU

 Kamulah Bencana yang mencandu

Karya: Bumi Ananta (AA)

Medan, 16 September 2025



Aku perempuan yang berdiri di tepi senja

Membawa hati yang rapuh namun berani

Lalu kau datang

Seperti gempa bumi yang menggetarkan lapisan terdalam diriku

Merobohkan dinding sunyi yang selama ini ku tegakkan dengan kesepian


Tatapanmu menyapu dadaku

Bagai angin topan yang berputar

Membawa segala daun gugur dan sisa rindu

Ke arah yang tak pernah kukenal

Namun entah mengapa aku rela terseret badaimu


Kata-katamu menjelma banjir bandang

Menerjang lorong-lorong kosong dalam jiwa

Mencabut akar keraguan

Menenggelamkan seluruh luka lama

yang dulu kukira tak pernah bisa hanyut


Aku jatuh padamu

Seperti desa yang tak berdaya di bawah letusan gunung berapi

Meledak

Meluap

Mencurahkan lahar merah yang bernama cinta

Dan aku hanya pasrah

Menerima panasnya sebab dalam api itu

aku menemukan kehidupan baru


Senyummu adalah tsunami

Yang datang tanpa aba-aba

Menghantam garis pantai kesendirianku

Menghempas segala sunyi

Meninggalkan jejak asin di bibirku

Yang kini hanya ingin menyebut namamu


(Nama Pasangan)..

Kau adalah semua bencana yang kutunggu

Tanah longsor yang meruntuhkan tebing keangkuhanku

Puting beliung yang melucuti daun-daun duka

Bahkan kemarau panjang yang membuatku rindu hujan dalam genggammu


Dan aku

Perempuan sederhana ini

Tidak akan pernah gentar

Sebab bila mencintaimu berarti hancur

Maka biarlah aku hancur seribu kali


Karena di balik reruntuhan

Aku percaya

Cintamu akan membangun kembali

Jauh lebih indah dari sebelumnya

Seperti bumi yang selalu tersenyum

Setelah badai reda

Komentar

Postingan Populer