Langsung ke konten utama

Unggulan

PERPISAHAN DIUJUNG MUARA

Karya: Bintang[R] Banten, 28 Desember 2025 sore hari, di tepi muara yang luas.  Air sungai bertemu dengan laut, warna coklat muda bersatu dengan biru gelap.  Matahari terbenam menyebarkan cahaya kemerahan di langit.  Dua sosok berdiri berdampingan, tapi jarak hati mereka terasa jauh.  Di tangan Lira, ada sehelai kain batik tua yang kusut.   LIRA: Lihatlah, Raihan. sungai ini tahu jalan keluarnya. Mencari laut yang lebih luas, meskipun harus meninggalkan dan semua pohon yang menanti di tepiannya... Raihan ini kain yang kau berikan padaku, waktu kita pertama kali datang ke sini.  Dan kau katakan,  "ini untukmu, agar selalu ada bagianku di dekatmu."   RAIHAN: Aku ingat Lira.  Kau memakainya saat hujan turun, dan kita bersembunyi di bawah pohon beringin. Kau tertawa dan bilang,  "aku ingin tinggal di sini selamanya denganmu, di antara sungai dan laut."   LIRA: Di ujung muara ini, semua air lupa asal-usulnya. Apakah kita juga akan lupa? ...

KETIKA CINTA TERBUNUH DI ALTAR PERJODOHAN

Karya: Bintang[R]

Banten, 27 Oktober 2025

 


Luna: Hai, Tara. Apa kabar hari ini?

 

Tara: Aku baik, Luna. Tumben sekali kau tanya kabarku. Biasanya kau langsung bercerita tentang harimu. Ada apa?

 

Luna: Tidak ada apa-apa. Hanya saja... aku akan merindukan saat-saat seperti ini bersamamu.

 

Tara: Merindukan? Kita kan setiap hari bertemu. Kau akan pergi jauh?

 

Luna: Syukurlah kabarmu baik. Meskipun... mungkin ini terakhir kalinya aku mendengarnya.

 

Tara: Ada apa ini, Luna? Kau seperti mengucapkan selamat tinggal.

 

(Luna terdiam, menatap Tara dengan tatapan sulit diartikan.)

 

Tara: Kau baik-baik saja? Kau sakit? Jangan membuatku khawatir!

 

Luna: Aku baik. Hanya... ada sesuatu yang harus kukatakan.

 

Tara: Katakan saja. Apa pun itu, aku akan mendengarkan.

 

Luna: Sebelumnya, maafkan aku. Aku tak menginginkan ini, tapi... takdir berkata lain.

 

Tara: Jangan bicara seperti itu. Aku tak mengerti.

 

Luna: Hubungan kita... harus berakhir sampai di sini.

 

Tara: Berakhir? Apa maksudmu? Apa yang terjadi?

 

(Luna menangis)

 

Luna: Sejujurnya, hatiku menolak, Tara. Tapi orang tuaku... mereka memaksaku untuk mengakhiri segalanya.

 

Tara: Memaksamu? Mereka tahu tentang kita?

 

Luna: Ya, dan mereka tidak menyetujuinya.

 

Tara: Mengapa? Apa salahku? Karena aku bukan dari keluarga berada?

 

Luna: Bukan begitu, kau salah paham.

 

Tara: Lalu apa?

 

Luna: Mereka... menjodohkanku dengan putra sahabat mereka.

 

Tara: Dijodohkan? Luna, ini bukan era Siti Nurbaya! Kamu bisa menolaknya! Kita telah bersama sekian lama!

 

Luna: Aku serius. Aku sudah mencoba sekuat tenaga — memohon, membujuk, bahkan bertengkar! Tapi mereka tetap pada pendiriannya. Kata ini demi masa depanku dan keluarga.

 

Tara: Ini hidupmu! Kamu punya hak untuk memilih! Jangan biarkan mereka merenggut kebahagiaanmu!

 

Luna: Tapi aku tidak tahu harus berbuat apa lagi. Mereka tidak mau mendengar. Aku takut mengecewakan mereka, tapi juga tidak mau hidup dalam kebohongan. Aku tidak mencintai cowok itu.

 

Tara: Lalu bagaimana denganku? Apa kau tidak mencintaiku lagi? Apa semua janji hanya omong kosong?

 

Luna: Jangan berkata seperti itu! Aku mencintaimu lebih dari apa yang bisa kau bayangkan! Tapi aku tak sanggup melawan mereka! Maafkan aku!

 

Tara: Jadi kau menyerah begitu saja? Setelah semua badai yang kita lalui? Aku tak percaya ini!

 

Luna: Hatiku hancur, tapi inilah kehendak mereka. Kuharap kau bisa mengerti dan menemukan bahagiamu sendiri.

 

Tara: Bahagia? Bagaimana bisa aku bahagia tanpamu? Kaulah bahagiaku, kaulah duniaku!

 

Luna: Aku tahu ini berat, tapi kumohon, jangan persulit keadaanku. Aku sudah cukup penderita.

 

Tara: Menderita? Kau menderita? Lalu bagaimana denganku? Kau menghancurkan hatiku! Kau meruntuhkan semua impian kita!

 

Luna: Luka yang kurasa pun sama dalamnya. Tapi aku tak bisa mengubah takdirku. Ini sudah digariskan.

 

Tara: Jangan berlindung di balik "takdir"! Ini pilihanmu! Kau memilih untuk menyerah daripada berjuang! Kau pengecut!

 

Luna: Mereka mengancam menarik semua fasilitas dan mengirimku ke negeri asing jika aku menolak! Aku tak bisa hidup tanpa mereka! Aku takut!

 

Tara: Jadi materi lebih berharga dari cinta? Status lebih tinggi dari kebahagiaan? Aku salah menilaimu!

 

Luna: Jangan bicara begitu! Aku tak materialistis! Aku hanya tak ingin mengecewakan mereka — mereka telah memberi segalanya! Aku berhutang budi!

 

Tara: Membalas budi dengan mengorbankan kebahagiaanmu? Itu pengkhianatan! Kau mengkhianati dirimu, hatimu, dan cinta kita!

 

Luna: Aku tahu aku salah! Tapi semuanya sudah terjadi! Aku hanya bisa meminta maaf!

 

Tara: Memaafkanmu? Mungkin suatu hari nanti... Tapi sekarang, yang kurasa hanya sakit, kecewa, dan amarah. Kau telah menghancurkan hidupku.

 

Luna: Kumohon, jangan membenciku. Jangan lupakan semua kenangan indah. Cinta itu nyata, Tara. Jangan meragukannya.

 

Tara: Kenangan itu kini hanya duri di hatiku. Aku akan mencoba melanjutkan hidup tanpamu, meski aku tahu itu takkan pernah sama.

 

Luna: Kuharap suatu hari nanti, kau menemukan seseorang yang lebih baik — yang bisa membahagiakanmu dan tak akan meninggalkanmu.

 

Tara: Aku tak tahu apa yang akan terjadi. Tapi satu hal pasti: aku takkan pernah melupakanmu. Kau akan selalu menjadi bagian dari hatiku.

 

Luna: Terima kasih atas semua cintamu, Tara. Aku pun tak akan melupakanmu. Selamat tinggal. Semoga kau bahagia.

 

Tara: Selamat tinggal, Luna. Semoga kau pun bahagia. Meskipun aku ragu.

Komentar

Postingan Populer