Unggulan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
KETIKA CINTA TERBUNUH DI ALTAR PERJODOHAN
Karya: Bintang[R]
Banten, 27 Oktober 2025
Luna: Hai, Tara. Apa kabar hari ini?
Tara: Aku baik, Luna. Tumben sekali kau tanya kabarku. Biasanya kau langsung bercerita tentang harimu. Ada apa?
Luna: Tidak ada apa-apa. Hanya saja... aku akan merindukan saat-saat seperti ini bersamamu.
Tara: Merindukan? Kita kan setiap hari bertemu. Kau akan pergi jauh?
Luna: Syukurlah kabarmu baik. Meskipun... mungkin ini terakhir kalinya aku mendengarnya.
Tara: Ada apa ini, Luna? Kau seperti mengucapkan selamat tinggal.
(Luna terdiam, menatap Tara dengan tatapan sulit diartikan.)
Tara: Kau baik-baik saja? Kau sakit? Jangan membuatku khawatir!
Luna: Aku baik. Hanya... ada sesuatu yang harus kukatakan.
Tara: Katakan saja. Apa pun itu, aku akan mendengarkan.
Luna: Sebelumnya, maafkan aku. Aku tak menginginkan ini, tapi... takdir berkata lain.
Tara: Jangan bicara seperti itu. Aku tak mengerti.
Luna: Hubungan kita... harus berakhir sampai di sini.
Tara: Berakhir? Apa maksudmu? Apa yang terjadi?
(Luna menangis)
Luna: Sejujurnya, hatiku menolak, Tara. Tapi orang tuaku... mereka memaksaku untuk mengakhiri segalanya.
Tara: Memaksamu? Mereka tahu tentang kita?
Luna: Ya, dan mereka tidak menyetujuinya.
Tara: Mengapa? Apa salahku? Karena aku bukan dari keluarga berada?
Luna: Bukan begitu, kau salah paham.
Tara: Lalu apa?
Luna: Mereka... menjodohkanku dengan putra sahabat mereka.
Tara: Dijodohkan? Luna, ini bukan era Siti Nurbaya! Kamu bisa menolaknya! Kita telah bersama sekian lama!
Luna: Aku serius. Aku sudah mencoba sekuat tenaga — memohon, membujuk, bahkan bertengkar! Tapi mereka tetap pada pendiriannya. Kata ini demi masa depanku dan keluarga.
Tara: Ini hidupmu! Kamu punya hak untuk memilih! Jangan biarkan mereka merenggut kebahagiaanmu!
Luna: Tapi aku tidak tahu harus berbuat apa lagi. Mereka tidak mau mendengar. Aku takut mengecewakan mereka, tapi juga tidak mau hidup dalam kebohongan. Aku tidak mencintai cowok itu.
Tara: Lalu bagaimana denganku? Apa kau tidak mencintaiku lagi? Apa semua janji hanya omong kosong?
Luna: Jangan berkata seperti itu! Aku mencintaimu lebih dari apa yang bisa kau bayangkan! Tapi aku tak sanggup melawan mereka! Maafkan aku!
Tara: Jadi kau menyerah begitu saja? Setelah semua badai yang kita lalui? Aku tak percaya ini!
Luna: Hatiku hancur, tapi inilah kehendak mereka. Kuharap kau bisa mengerti dan menemukan bahagiamu sendiri.
Tara: Bahagia? Bagaimana bisa aku bahagia tanpamu? Kaulah bahagiaku, kaulah duniaku!
Luna: Aku tahu ini berat, tapi kumohon, jangan persulit keadaanku. Aku sudah cukup penderita.
Tara: Menderita? Kau menderita? Lalu bagaimana denganku? Kau menghancurkan hatiku! Kau meruntuhkan semua impian kita!
Luna: Luka yang kurasa pun sama dalamnya. Tapi aku tak bisa mengubah takdirku. Ini sudah digariskan.
Tara: Jangan berlindung di balik "takdir"! Ini pilihanmu! Kau memilih untuk menyerah daripada berjuang! Kau pengecut!
Luna: Mereka mengancam menarik semua fasilitas dan mengirimku ke negeri asing jika aku menolak! Aku tak bisa hidup tanpa mereka! Aku takut!
Tara: Jadi materi lebih berharga dari cinta? Status lebih tinggi dari kebahagiaan? Aku salah menilaimu!
Luna: Jangan bicara begitu! Aku tak materialistis! Aku hanya tak ingin mengecewakan mereka — mereka telah memberi segalanya! Aku berhutang budi!
Tara: Membalas budi dengan mengorbankan kebahagiaanmu? Itu pengkhianatan! Kau mengkhianati dirimu, hatimu, dan cinta kita!
Luna: Aku tahu aku salah! Tapi semuanya sudah terjadi! Aku hanya bisa meminta maaf!
Tara: Memaafkanmu? Mungkin suatu hari nanti... Tapi sekarang, yang kurasa hanya sakit, kecewa, dan amarah. Kau telah menghancurkan hidupku.
Luna: Kumohon, jangan membenciku. Jangan lupakan semua kenangan indah. Cinta itu nyata, Tara. Jangan meragukannya.
Tara: Kenangan itu kini hanya duri di hatiku. Aku akan mencoba melanjutkan hidup tanpamu, meski aku tahu itu takkan pernah sama.
Luna: Kuharap suatu hari nanti, kau menemukan seseorang yang lebih baik — yang bisa membahagiakanmu dan tak akan meninggalkanmu.
Tara: Aku tak tahu apa yang akan terjadi. Tapi satu hal pasti: aku takkan pernah melupakanmu. Kau akan selalu menjadi bagian dari hatiku.
Luna: Terima kasih atas semua cintamu, Tara. Aku pun tak akan melupakanmu. Selamat tinggal. Semoga kau bahagia.
Tara: Selamat tinggal, Luna. Semoga kau pun bahagia. Meskipun aku ragu.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Postingan Populer
RINDU YANG TAK PERNAH AKAN PULANG
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar