Langsung ke konten utama

Unggulan

PERPISAHAN DIUJUNG MUARA

Karya: Bintang[R] Banten, 28 Desember 2025 sore hari, di tepi muara yang luas.  Air sungai bertemu dengan laut, warna coklat muda bersatu dengan biru gelap.  Matahari terbenam menyebarkan cahaya kemerahan di langit.  Dua sosok berdiri berdampingan, tapi jarak hati mereka terasa jauh.  Di tangan Lira, ada sehelai kain batik tua yang kusut.   LIRA: Lihatlah, Raihan. sungai ini tahu jalan keluarnya. Mencari laut yang lebih luas, meskipun harus meninggalkan dan semua pohon yang menanti di tepiannya... Raihan ini kain yang kau berikan padaku, waktu kita pertama kali datang ke sini.  Dan kau katakan,  "ini untukmu, agar selalu ada bagianku di dekatmu."   RAIHAN: Aku ingat Lira.  Kau memakainya saat hujan turun, dan kita bersembunyi di bawah pohon beringin. Kau tertawa dan bilang,  "aku ingin tinggal di sini selamanya denganmu, di antara sungai dan laut."   LIRA: Di ujung muara ini, semua air lupa asal-usulnya. Apakah kita juga akan lupa? ...

NEGERI IMPIAN YANG TERLUKA


 Karya: Bintang[R]

Banten, 18 September 2025



Di pangkuan pertiwi yang subur lagi kaya,

maka benih impian merekah bagai fajar yang menyingsing,

menyinari asa yang terpendam dalam jiwa yang mendalam,

sehingga makmur sejahtera denyut nadi kehidupan bersemi.

 

Sayangnya, cakar pengkhianatan mencengkeram dengan kejam,

hingga merobek harapan menjadi serpihan mimpi yang berserakan,

dan menelan kilau cahaya yang pernah menerangi jiwa yang gelap.

 

Korupsi merajalela, bahkan menjadi racun dalam nadi pertiwi,

karena akarnya menjalar di setiap sendi kehidupan bangsa,

lalu meruntuhkan pilar tatanan yang seharusnya kokoh berdiri,

sebab timbangan hukum berkarat, keadilan terbungkam dalam penjara bisu,

alhasil negeri impian merana dalam kabut kelam yang menyesakkan.

 

Serigala berbulu domba menduduki kursi pemimpin dengan angkuh,

serta memangsa rakyat jelata tanpa belas kasihan, tanpa ampun,

padahal janji manis hanyalah fatamorgana di tengah gurun yang tandus,

sebab dahaga kuasa menjadi api yang membakar nurani, menghanguskan jiwa.

 

Paru-paru bumi dirampas tanpa ampun, dieksploitasi tanpa henti,

hingga urat nadi kehidupan menjadi keruh oleh limbah yang mencemari,

alam membisu dalam kepedihan yang mendalam, tak terucapkan,

sehingga ibu pertiwi merintih dalam luka yang menganga, tak terobati.

 

Kompas generasi muda retak, kehilangan arah dan tujuan hidup,

karena terjebak dalam labirin candu yang menyesatkan, merusak masa depan,

sebab pilar moralitas runtuh bagai istana pasir yang diterjang ombak,

hingga etika luhur tersembunyi di dasar lautan yang gelap dan dalam.

 

Bara kebencian membakar hangus persaudaraan yang dulu erat,

hingga benang persatuan terurai menjadi untaian mimpi yang hampa,

sehingga negeri impian menari di bibir jurang kehancuran yang menganga.

 

Namun, setitik embun nurani tak pernah kering, tetap bersemi,

di palung jiwa yang terdalam, tunas harapan merambat naik perlahan.

 

Wahai pelita bangsa, bangkitlah dari keterpurukan yang dalam!

Satukan tekad sekuat baja, tak tergoyahkan oleh badai yang menerpa,

demi menyelamatkan negeri dari cengkeraman pengkhianatan yang mematikan.

 

Tegakkan tiang keadilan setinggi langit, menjulang ke angkasa raya,

dan pancung kepala naga korupsi yang merajalela, tak terkendali,

dekap erat bumi pertiwi, rawat dengan sepenuh hati dan jiwa,

serta rajut kembali permadani persatuan dengan obor semangat yang membara.

 

Mari kita rajut asa di tengah pusaran zaman yang penuh tantangan,

untuk menggapai bintang-bintang harapan yang gemerlap di langit malam,

supaya negeri impian kembali bersinar dengan mahkota kejayaan abadi.

Komentar

Postingan Populer