Unggulan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
AKAR YANG SELALU MENOPANGKU
Karya: Bintang[R]
Banten, 28 Juni 2025
revisi
Bu,
Aku berdiri di atas tanah kehidupan—batang pohon yang dulu masih kecil, yang masih merasakan sentuhan akar-akarmu yang kuat menopangku dari bawah tanah.
Dulu, aku adalah daun yang terlalu ceria bergoyang tertiup angin, sehingga telingaku tak mendengar bisikanmu yang seperti getaran daun. Aku anggap nasihatmu cuma hujan yang lewat, padahal dari sanalah aku mendapatkan air kehidupan—menjadi batang yang kokoh menghadapi angin kencang. Hatinya seperti cabang yang terlalu kaku, merasa cukup kuat berdiri sendiri—padahal seharusnya ku jepit erat akar-akarmu, agar tidak tumbuh miring di tengah hutan kesusahan.
Ketika angin badai menerpa dan aku hampir patah, cuma getaran akar-akarmu yang seperti kekuatan tersembunyi. Cuma batangmu yang selalu jadi pijakan—tempatku bersandar ketika tanah berguncang, tempatku bersembunyi ketika hujan turun deras. Cintamu, Bu, adalah akar yang dalam yang menanamku di tanah kebahagiaan—masih tempat yang aman yang membuatku tidak terlepas akar.
Namun, kini batangmu yang dulu menopangku hanya tinggal sisa akar—seperti pohon tua yang telah gugur, tapi akarnya masih ada di dalam hatiku. Tersisa rindu yang seperti dedaunan yang terus rontok, rasa ingin kembali ke masa ketika kita masih tumbuh bersama di taman keluarga.
Ibu,
Dunia terasa seperti hutan yang gelap dan sunyi. Memaksa aku tumbuh tegak, padahal akarku masih lemah. Semuanya bising seperti bunyi hewan liar dan penuh kepalsuan—salah dan benar seolah daun yang terbalik, bikin aku semakin kehilangan cahaya matahari yang dulu kau berikan.
Aku sendirian di tengah hutan yang lebat—menghadapi kegelapan yang mencekam seperti malam. Di antara pohon-pohon yang dingin dan tak berjiwa, hanya peduli pada tumbuhnya sendiri. Andaikan waktu bisa ku putar balik walau sekejap—akan kuikut setiap getaran akar-akarmu, akan ku pahami setiap makna yang tersirat di daun-daunmu. Mungkin aku tidak akan lelah seperti pohon yang kering, luka batangku tidak akan dalam seperti goresan pisau, dan aku tidak akan merasa gugur berkali-kali oleh angin yang ingin aku tumbang.
Tapi aku harus kuat, kan, Bu? Harus terus tumbuh ke arah matahari—demi diriku, dan demi akar-akarmu yang selalu ada di dalam tanah hatiku.
Bu,
Aku sangat rindu saat-saat itu: taman keluarga yang penuh canda tawa seperti bunyi burung di pohon-pohon. Meja makan yang engkau isi dengan hidangan yang berasa matahari—masakanmu yang tak ada yang bisa menandingi, seperti pupuk yang membuatku tumbuh kuat. Kamar tidurku yang penuh kehangatan, ketika kecupan selamat malam masih melekat di keningku seperti embun di daun, dan engkau membacakan dongeng yang bikin duniamu seperti taman yang indah.
Kini, yang tersisa hanyalah sesal yang menyesakkan dada—menyesali kesombongan dan kebodohan yang pernah kulakukan. Maafkan aku, Bu. Maafkan batang pohon itu yang dulu terlalu bodoh untuk menghargai akar-akarmu. Maafkan aku karena seringkali membuatmu kecewa dan membuat matamu menangis seperti hujan.
Biarlah rindu yang membuncah ini ku hantarkan dalam setiap bait doa—seperti angin yang membawa dedaunan ke arahmu. Ku pinta kebahagiaan dan kedamaian untukmu di sana, di sisi-Nya. Semoga Tuhan selalu menjagamu, melindungimu dari segala bahaya—seperti yang engkau lakukan padaku dulu, membuat akar-akarmu selalu kuat menopangku.
Mencintaimu adalah anugerah terindah yang pernah kukenal—seperti matahari yang memberinya cahaya pada pohon. Aku akan terus berusaha membanggakanmu—melalui setiap cabang yang tumbuh, setiap daun yang bertunas—menjiwai setiap pesan dan nasehatmu yang selalu menjadi akar kekuatanku.
Aku janji, Bu: akan terus menjadi pohon yang kokoh, agar engkau bisa tersenyum bangga melihatku dari atas—dengan akar-akarmu yang selalu menopangku, selalu.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Postingan Populer
RINDU YANG TAK PERNAH AKAN PULANG
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar