Langsung ke konten utama

Unggulan

PERPISAHAN DIUJUNG MUARA

Karya: Bintang[R] Banten, 28 Desember 2025 sore hari, di tepi muara yang luas.  Air sungai bertemu dengan laut, warna coklat muda bersatu dengan biru gelap.  Matahari terbenam menyebarkan cahaya kemerahan di langit.  Dua sosok berdiri berdampingan, tapi jarak hati mereka terasa jauh.  Di tangan Lira, ada sehelai kain batik tua yang kusut.   LIRA: Lihatlah, Raihan. sungai ini tahu jalan keluarnya. Mencari laut yang lebih luas, meskipun harus meninggalkan dan semua pohon yang menanti di tepiannya... Raihan ini kain yang kau berikan padaku, waktu kita pertama kali datang ke sini.  Dan kau katakan,  "ini untukmu, agar selalu ada bagianku di dekatmu."   RAIHAN: Aku ingat Lira.  Kau memakainya saat hujan turun, dan kita bersembunyi di bawah pohon beringin. Kau tertawa dan bilang,  "aku ingin tinggal di sini selamanya denganmu, di antara sungai dan laut."   LIRA: Di ujung muara ini, semua air lupa asal-usulnya. Apakah kita juga akan lupa? ...

SUARA HATI DI TENGAH BADAI


Karya: bintang[R]

Banten, 15 September 2025

 


Dering telepon berbunyi nyaring, memecah kesunyian malam yang sepi.

 

Anya: Halo, sayang? Apa kabarmu hari ini? Semoga kau baik-baik saja di sana.

 

Riko: Anya... maafkan aku karena meneleponmu larut malam. Aku tahu tidak sopan, tapi aku benar-benar butuh bicara.

 

Anya: Tidak apa-apa, Riko. Sungguh. Tapi... kau baik-baik saja? Suaramu terdengar aneh banget.

 

Riko: Ya, aku baik. Hanya sedikit lelah. Seperti biasa, sih.

 

Anya: Kau selalu bekerja terlalu keras. Kapan mau beristirahat? Harus pikirkan kesehatan juga dong.

 

Riko: Sebentar lagi, aku janji. Bagaimana dengan harimu? Ada yang menarik?

 

Anya: Biasa saja. Aku merindukanmu. Kapan kita bisa bertemu lagi? Sudah lama tidak lihatmu tertawa lepas.

 

Riko: Anya, ada sesuatu yang harus kukatakan. Sesuatu yang berat banget, sulit untuk diucapkan.

 

Anya: Ada apa, Riko? Kau bikin aku takut. Jangan bikin aku khawatir, kumohon.

 

Riko: Aku... aku tidak bisa bertemu denganmu untuk sementara waktu. Mungkin cukup lama.

 

Anya: Apa? Apa maksudmu? Kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi?

 

Riko: Aku butuh waktu untuk sendiri. Harus memikirkan banyak hal — yang cuma bisa kupikirkan dalam kesunyian.

 

Anya: Sendiri? Tapi kenapa? Aku selalu ada untukmu kan? Kenapa sekarang menjauh?

 

Riko: Aku tidak bisa jelaskan sekarang, Anya. Maafkan aku. Percayalah, bukan karena aku tidak mencintaimu.

 

Anya: Riko, kumohon. Jangan seperti ini. Aku mencintaimu. Aku ingin membantumu. Biarkan aku jadi sandaranmu, seperti biasa.

 

Riko: Aku tidak ingin menyakitimu, tapi sepertinya udah melakukannya.

 

Anya: Menyakitiku? Kau udah menyakitiku, Riko! Aku mencintaimu — bagaimana bisa kau lakukan ini?

 

Riko: Kau pantas dapat yang lebih baik dariku, Anya. Aku sakit. Aku bukan orang yang tepat untukmu.

 

Anya: Sakit? Sakit apa? Kenapa tidak pernah memberitahuku? Aku berhak tahu apa yang terjadi padamu!

 

Riko: Aku takut. Takut kau akan meninggalkanku. Takut kau tidak bisa terima diriku yang sekarang.

 

Anya: Meninggalkanmu? Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Riko! Kau adalah segalanya bagiku!

 

Riko: Aku sakit parah, Anya. Sudah menjalani banyak pengobatan. Dokter pernah bilang... dengan nada serius banget, kalau aku mungkin tidak punya banyak waktu lagi.

 

(Anya terdiam membeku. Air mata mengalir deras, membasahi pipinya yang pucat.)

 

Anya: Apa... apa yang kau katakan? Ini... ini tidak mungkin. Pasti mimpi buruk.

 

Riko: Aku minta maaf. Seharusnya memberitahumu sejak awal, tapi aku terlalu pengecut.

 

Anya: Sakit apa? Kenapa menyembunyikan ini dariku?

 

Riko: Aku sakit kanker. Stadium akhir. Tidak ada harapan lagi.

 

(Anya terisak keras. Dia tidak bisa berkata apa-apa — hanya air mata yang jadi saksi bisu.)

 

Riko: Aku tidak ingin kau lihatku seperti ini, Anya. Ingin kau ingatku sebagai orang yang kau cintai — Riko yang kuat dan sehat.

 

Anya: Jangan bicara seperti itu! Kau akan sembuh! Kita akan cari pengobatan terbaik, ke mana saja pun!

 

Riko: Jangan bodoh, Anya. Tidak ada obatnya. Aku udah terima kenyataan ini. Sudah pasrah.

 

Anya: Tidak, Riko! Aku tidak percaya! Aku mencintaimu! Aku tidak bisa kehilanganmu! Tidak sanggup bayangkan hidup tanpamu!

 

Riko: Aku juga mencintaimu, Anya. Lebih dari apa pun di dunia. Kaulah satu-satunya kebahagiaanku.

 

Anya: Kalau begitu, jangan menyerah! Berjuanglah! Demi aku, demi cinta kita!

 

Riko: Aku lelah, Anya. Sangat lelah. Ingin istirahat. Ingin tidur dan tidak pernah bangun lagi.

 

Anya: Kumohon, Riko. Jangan pergi. Aku butuhmu. Tidak bisa hidup tanpamu di sisiku.

 

Riko: Aku harus pergi sekarang. Waktuku sudah habis. Selamat tinggal, Anya. Aku akan selalu mencintaimu.

 

Anya: Tidak! Jangan tutup teleponnya! Riko! Aku mohon! Jangan tinggalkan aku! Aku akan lakukan apa saja untukmu!

 

(Terdengar suara batuk yang sangat keras dan mengerikan dari seberang. Diikuti erangan kesakitan yang memilukan.)

 

Anya: Riko? Riko, jawab aku! Apa yang terjadi? Riko! Jangan bikin aku takut begini!

 

(Yang terdengar hanya suara napas yang berat dan tersendat — seolah orang yang sedang berjuang untuk hidup.)

 

Anya: Riko! Jangan bercanda! Ini tidak lucu! Riko! Kumohon, jangan lakukan ini padaku!

 

(Tiba-tiba, sambungan telepon terputus. Anya memeluk teleponnya erat-erat, menangis histeris — seolah memeluk Riko untuk yang terakhir kalinya.)

 

Anya: Riko! Jangan tinggalkan aku! Aku mohon! Aku mencintaimu! Riko!!! Kembali padaku! Aku tidak bisa hidup tanpamu!

Komentar

Postingan Populer