Unggulan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
DIALOG OMBAK DAN NAHKODA
karya: Bintang[R]
Banten, 27 Oktober 2025
Anak: Assalamualaikum, ayah.
Ombak kecil ini akhirnya tiba juga, yah?
Lama sekali rasanya tidak pulang.
Ayah: Waalaikumsalam, nak.
Ombak kecilku sudah kembali ke pantai ini.
Tapi, kenapa langit di wajahmu sekelam ini?
Ada awan mendung yang menutupi senyummu?
Sini, ceritakan pada nahkoda tua ini — badai apa yang sedang mengombang-ambingkan hatimu?
Anak: Ayah, bisakah kita berlayar sebentar saja?
Ada pulau karam yang ingin kutunjukkan pada ayah — pulau yang penuh dengan cerita yang belum selesai.
Tapi aku ragu... apakah ayah mau mendengarkan semua keluh kesahku?
Ayah: Tentu saja, ombak kecilku.
Kapal ayah ini selalu siap untukmu, kapan pun kamu membutuhkannya.
Jangan pernah ragu — ayah akan selalu mendengarkanmu dengan sepenuh hati.
Lalu, angin apa yang membawamu kemari? Dan angin yang membawa cerita apa?
Anak: Ayah, akhir-akhir ini aku merasa seperti kapal hantu yang berlayar sendirian di tengah malam.
Bukan hanya karena badai tugas sekolah yang tak ada habisnya — tapi juga... aku terperangkap dalam labirin impian kosong, ayah. Dan aku kehilangan arah.
Ayah: Ayah mengerti, nak.
Lautan kehidupan ini bisa bergelombang karena banyak sebab — terkadang tenang, terkadang penuh badai.
Apa sebenarnya yang membuatmu terombang-ambing seperti ini?
Apakah beban sekolah terlalu berat? Atau ada batu karang tersembunyi di antara teman-temanmu? Atau... apakah ini tentang masa depanmu? Tentang jalan yang ingin kamu pilih?
Anak: Oh, jadi ayah sudah tahu? Sudah bisa menebak isi hatiku?
Kenapa ayah tidak langsung bertanya: kapan aku akan menjadi lumba-lumba yang ayah inginkan? Kapan aku akan mengikuti jejak ayah?
Ayah: Maksudmu apa, nak? Ayah tidak mengerti.
Bukan begitu maksud ayah — ayah hanya ingin melihatmu bahagia dan sukses dalam hidupmu. Ingin kamu mencapai semua impianmu, apa pun itu.
Anak: Bahagia? Sukses? Tapi dengan cara ayah? Dengan menjadi replika ayah? Dengan mengikuti jalur yang sudah ayah tentukan?
Aku bukan miniatur kapal, ayah! Aku punya kemudi sendiri.
Ayah: Ayah hanya ingin memberikan yang terbaik untukmu, nak!
Apa salahnya jika ayah menginginkan kamu memiliki masa depan yang cerah? Ayah tidak ingin kamu mengalami kesulitan yang pernah ayah alami.
Anak: Salahnya adalah ayah tidak pernah bertanya apa yang sebenarnya aku inginkan!
Ayah selalu memaksakan kehendakmu! Tidak pernah memberiku kesempatan untuk memilih jalanku sendiri.
Aku ingin menjadi camar, ayah! Terbang bebas menjelajahi angkasa luas — bukan hanya mengikuti rute yang sudah ayah tentukan!
Ayah: Camar? Terbang bebas? Apakah kamu yakin?
Apakah pikir hidup itu semudah itu, nak? Dunia ini penuh dengan bahaya.
Kamu butuh jangkar, nak! Dan landasan yang kuat untuk bertahan. Ayah tidak ingin kamu terluka.
Anak: Aku tidak butuh jangkar yang justru akan menenggelamkanku!
Aku butuh sayap yang kuat untuk terbang tinggi! Ingin merasakan kebebasan, ayah.
Ayah: Ayah... ayah hanya takut kamu tersesat, nak.
Tidak ingin kamu kehilangan arah di tengah lautan yang luas. Ayah ingin melindungimu.
Anak: Aku lebih baik tersesat daripada tidak pernah mencoba terbang sama sekali!
Ingin mengambil risiko, belajar dari kesalahan. Ingin menemukan jati diriku.
Ayah: Nak... jangan pergi terlalu jauh...
Ombak kecilku, ke mana sebenarnya kamu ingin berlayar sekarang? Apa tujuanmu?
Anak: Aku belum tahu pasti, ayah. Masih mencari.
Tapi yang jelas: aku ingin terbang dengan sayapku sendiri, tanpa terikat oleh apa pun. Ingin menemukan duniaku sendiri.
Ayah: Ayah mengerti, nak. Ayah mulai memahami.
Terbanglah sejauh yang kau mau, jelajahi semua tempat yang ingin kau lihat, temukan semua jawaban yang kau cari.
Tapi ingat — jangan lupakan rumah. Ayah akan selalu menunggumu di sini, dengan pintu terbuka lebar. Akan selalu menjadi tempatmu kembali.
Anak: Aku janji, ayah. Akan selalu ingat rumah. Tidak akan pernah melupakan ayah.
Tapi ayah... bolehkah aku meminta sesuatu?
Ayah: Tentu saja, nak. Apa itu? Apapun untukmu.
Anak: Bisakah ayah berhenti memanggilku "ombak kecil"? Aku sudah besar sekarang.
Ingin menjadi "camar besar", ayah. Ingin dikenal dengan diriku sendiri.
Ayah: Baiklah, camar besarku.
Ayah akan mengingatnya. Ayah bangga padamu.
Tapi, bolehkah ayah juga meminta sesuatu darimu?
Anak: Apa itu, ayah? Apapun akan kulakukan.
Ayah: Jangan lupakan nahkoda tua ini saat kamu terbang tinggi nanti.
Sesekali... ceritakan pada ayah tentang petualanganmu. Ceritakan tentang dunia yang kamu lihat dari atas sana. Ayah ingin tahu bagaimana rasanya terbang bebas.
Anak: Tentu saja, ayah! Aku akan menceritakan semuanya — setiap detailnya.
Dan mungkin, suatu hari nanti, aku akan mengajak ayah terbang bersamaku. Kita akan menjelajahi dunia bersama.
Ayah: Itu akan menjadi petualangan yang luar biasa, nak. Ayah akan sangat menantikannya.
Ayah akan selalu mendukungmu.
Anak: Ayah, lihat! Langitnya indah sekali! Penuh dengan warna-warni yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Ayah: Ya, nak. Indah sekali.
Seperti masa depan yang cerah dan penuh harapan yang menanti kita berdua. Seperti mimpi-mimpi yang siap untuk diwujudkan.
Anak: Iya, ayah... (mengangguk dengan senyum lebar)
Aku tidak sabar untuk terbang.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Postingan Populer
RINDU YANG TAK PERNAH AKAN PULANG
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar