Langsung ke konten utama

Unggulan

PERPISAHAN DIUJUNG MUARA

Karya: Bintang[R] Banten, 28 Desember 2025 sore hari, di tepi muara yang luas.  Air sungai bertemu dengan laut, warna coklat muda bersatu dengan biru gelap.  Matahari terbenam menyebarkan cahaya kemerahan di langit.  Dua sosok berdiri berdampingan, tapi jarak hati mereka terasa jauh.  Di tangan Lira, ada sehelai kain batik tua yang kusut.   LIRA: Lihatlah, Raihan. sungai ini tahu jalan keluarnya. Mencari laut yang lebih luas, meskipun harus meninggalkan dan semua pohon yang menanti di tepiannya... Raihan ini kain yang kau berikan padaku, waktu kita pertama kali datang ke sini.  Dan kau katakan,  "ini untukmu, agar selalu ada bagianku di dekatmu."   RAIHAN: Aku ingat Lira.  Kau memakainya saat hujan turun, dan kita bersembunyi di bawah pohon beringin. Kau tertawa dan bilang,  "aku ingin tinggal di sini selamanya denganmu, di antara sungai dan laut."   LIRA: Di ujung muara ini, semua air lupa asal-usulnya. Apakah kita juga akan lupa? ...

JAWABAN DARI PELABUHAN YANG HILANG


karya: Bintang [R]

Banten, 03 Oktober 2025



Dik, suratmu bagaikan tetesan embun di tengah kemarau panjang. Sungguh, setiap kata yang kau ukir terasa begitu jujur dan menyayat hati. Oleh karena itu, jangan pernah berpikir bahwa kau tak pantas meminta, karena kau adalah bagian tak terpisahkan dari keluarga ini.

 

Rumah kita memang bukan istana, namun di sanalah cinta kita bersemi. Dindingnya mungkin tak lagi seindah dulu, tetapi setiap coretan di sana adalah saksi bisu perjalanan kita. Dan ya, rumah itu masih berdiri kokoh, bahkan menunggumu untuk kembali.

 

Lentera di beranda memang sempat redup, akan tetapi percayalah, nyala itu tak pernah benar-benar padam. Ia hanya menunggu seseorang untuk kembali mengisi minyaknya, seseorang yang dulu pernah menjadi bagian dari cahayanya.

 

Dik, kau tak pernah benar-benar sendiri. Kami selalu ada, walaupun kau tak melihatnya. Nasihat ayah masih terngiang di telinga kami, pelukan ibu masih terasa hangat di hati kami, dan senyum kami selalu menyertai langkahmu.

 

Kau tak tersesat, Adikku. Kau hanya sedang mencari jalan pulang. Dan kami akan selalu membukakan pintu untukmu. Jangan biarkan penyesalan menggerogoti hatimu. Jadikan itu sebagai pelajaran berharga untuk menata masa depan.

 

Dik, ulurkan tanganmu. Kami akan menyambutmu dengan tangan terbuka. Keluarga ini adalah pelabuhanmu, tempat di mana kau bisa beristirahat dan menemukan kedamaian.

 

Tentu saja masih ada ruang untukmu di taman hati kami. Dan ladang yang dulu kau lukai, kini siap untuk ditanami benih kebaikan. Bersama, kita akan merawatnya hingga bersemi kembali.

 

Dik, kau tak perlu menjadi pelayan. Cukup menjadi dirimu sendiri. Jadilah bagian dari harmoni keluarga ini, dan biarkan mentari keluarga kembali menyinari hidupmu.

 

Kami merindukanmu, sangat merindukanmu. Cepatlah pulang, Adikku. Rumah ini selalu menantimu.

 

Dengan cinta yang tak pernah padam,

Kakakmu.

Komentar

Postingan Populer