Langsung ke konten utama

Unggulan

PERPISAHAN DIUJUNG MUARA

Karya: Bintang[R] Banten, 28 Desember 2025 sore hari, di tepi muara yang luas.  Air sungai bertemu dengan laut, warna coklat muda bersatu dengan biru gelap.  Matahari terbenam menyebarkan cahaya kemerahan di langit.  Dua sosok berdiri berdampingan, tapi jarak hati mereka terasa jauh.  Di tangan Lira, ada sehelai kain batik tua yang kusut.   LIRA: Lihatlah, Raihan. sungai ini tahu jalan keluarnya. Mencari laut yang lebih luas, meskipun harus meninggalkan dan semua pohon yang menanti di tepiannya... Raihan ini kain yang kau berikan padaku, waktu kita pertama kali datang ke sini.  Dan kau katakan,  "ini untukmu, agar selalu ada bagianku di dekatmu."   RAIHAN: Aku ingat Lira.  Kau memakainya saat hujan turun, dan kita bersembunyi di bawah pohon beringin. Kau tertawa dan bilang,  "aku ingin tinggal di sini selamanya denganmu, di antara sungai dan laut."   LIRA: Di ujung muara ini, semua air lupa asal-usulnya. Apakah kita juga akan lupa? ...

PERPINDAHAN MUSIM

 

karya: Bintang[R]

Banten, 06 Oktober 2025

 


Kita pernah menanam benih di tanah yang sama,

Menyiramnya dengan janji di bawah mentari senja.

Tunas cinta tumbuh menjalar bagai akar yang kuat,

Menyatu dalam harmoni — tak terpisahkan oleh badai.

 

Sayangnya musim berubah, angin berhembus tak terduga,

Kau biarkan hatimu terpikat pada taman yang berbeda.

Di sana bunga-bunga palsu merekah dengan warna mencolok,

Menawarkan aroma sesaat — memabukkan dan menyesatkan.

 

Kau lupakan kebun kita yang dulu hijau dan teduh,

Tempat burung-burung cinta bernyanyi dengan merdu.

Kini kau tinggalkan aku sendiri merawat sisa kenangan,

Menyaksikan layunya harapan — terkubur dalam penyesalan.

 

Kau adalah nahkoda yang meninggalkan kapalnya,

Tergiur gemerlap mercusuar di pulau seberang.

Kau abaikan kompas yang dulu menuntunmu pulang,

Tersesat dalam lautan nafsu — kehilangan arah dan tujuan.

 

Aku bagai pohon tua yang kehilangan daunnya,

Ranting-rantingku patah — tak mampu lagi menopang cinta.

Namun akarku masih menghujam dalam tanah kesetiaan,

Berharap suatu saat nanti — kau kembali ke pangkuan.

 

Biarlah waktu menjadi obat menyembuhkan luka jiwa,

Walau bekasnya abadi mengingatkan sebuah cerita:

Bahwa cinta sejati takkan pernah terganti,

Oleh kilauan palsu yang hanya sesaat menghampiri.

Komentar

Postingan Populer