Langsung ke konten utama

Unggulan

PERPISAHAN DIUJUNG MUARA

Karya: Bintang[R] Banten, 28 Desember 2025 sore hari, di tepi muara yang luas.  Air sungai bertemu dengan laut, warna coklat muda bersatu dengan biru gelap.  Matahari terbenam menyebarkan cahaya kemerahan di langit.  Dua sosok berdiri berdampingan, tapi jarak hati mereka terasa jauh.  Di tangan Lira, ada sehelai kain batik tua yang kusut.   LIRA: Lihatlah, Raihan. sungai ini tahu jalan keluarnya. Mencari laut yang lebih luas, meskipun harus meninggalkan dan semua pohon yang menanti di tepiannya... Raihan ini kain yang kau berikan padaku, waktu kita pertama kali datang ke sini.  Dan kau katakan,  "ini untukmu, agar selalu ada bagianku di dekatmu."   RAIHAN: Aku ingat Lira.  Kau memakainya saat hujan turun, dan kita bersembunyi di bawah pohon beringin. Kau tertawa dan bilang,  "aku ingin tinggal di sini selamanya denganmu, di antara sungai dan laut."   LIRA: Di ujung muara ini, semua air lupa asal-usulnya. Apakah kita juga akan lupa? ...

SEMBUH BERSAMA PART II

 Karya: Bintang[R]

Banten, 29 Agustus 2025

 

Di tengah hamparan taman bunga yang bermandikan cahaya mentari senja, Jingga dan Langit akhirnya dipertemukan kembali oleh takdir. Sebulan lamanya mereka berpisah — dan selama itu, gejolak serta kecamuk yang menghantui dada masing-masing perlahan mulai mereda. Namun, siapa sangka, takdir justru memiliki rencana lain, membawa mereka kembali dalam percakapan yang tak terduga, penuh kejutan, dan sarat emosi.

 

Langit: Jingga! Apa benar itu kamu? Aku tidak salah lihat kan? Setelah sekian lama, bertemu lagi di sini. Rasanya seperti mimpi.

 

Jingga: Eh, Langit! Iya, ini aku. Kamu juga ada di sini? Kaget banget bisa bertemu. Apakah ini kebetulan, atau memang digariskan oleh semesta?

 

Langit: Bagaimana kabarmu? Sudah sebulan nggak ketemu, eh malah ketemu di sini. Aku senang sekaligus kaget. Banyak hal yang ingin kurceritakan.

 

Jingga: Aku baik kok. Khm... Gimana sama hatimu yang sempat terjebak di labirin masa lalu? Udah bisa melupakannya? Atau masih ada bayang-bayang? Harap kamu sudah menemukan kedamaian.

 

Langit: Sebelumnya, banyak terima kasih, Jingga. Kamu bikin aku sadar bahwa kebahagiaan nggak harus dipaksakan. Dan ternyata, masih banyak orang yang peduli sama aku — kamu salah satunya. Kamu teman yang sangat berharga bagiku.

 

Jingga: Kamu benar. Dulu matamu kayak tertutup awan mendung, bikin pandanganmu buta akan cahaya indah. Tapi syukurlah, kali ini cahaya itu udah sampai ke matamu. Oh ya, kamu lagi apa di sini? Nikmati taman, atau cari inspirasi?

 

Langit: Cuma jalan-jalan aja, cari udara segar. Mau lihat senja indah di ujung sana. Senja selalu kasih ketenangan tersendiri. Warna-warnanya yang memudar mengingatkanku: setiap akhir adalah awal yang baru.

 

Jingga: Di ujung sana ada senja? Kenapa kamu suka banget lihat senja? Bukannya senja itu mengantarkan ke kegelapan? Takut malam yang akan datang? Atau kamu lihat sesuatu yang istimewa?

 

(Langit terdiam sejenak, menatap Jingga dengan tatapan yang sulit diartikan)

 

Jingga: Kenapa diam? Maaf ya kalau salah bicara. Oh ya, ini ada cemilan buat kamu. Bisa jadi teman pas lihat senja nanti. Semoga suka — aku bikin sendiri lho.

 

Langit: Iya, terima kasih. Aku suka senja karena itu salah satu ciptaan Tuhan yang paling indah, sampai aku terlena. Dan aku sadar, masih banyak hal yang lebih indah daripada masa laluku yang kelam. Terima kasih cemilannya, Jingga. Kamu memang selalu perhatian. Aku beruntung punya kamu sebagai teman.

 

Jingga: Syukurlah kamu udah sadar. Nggak baik kalau terus berlarut dalam kesedihan yang nggak ada ujungnya. Kamu hebat, tangguh, kuat! Masa seorang Langit bisa kalah sama masa lalunya sih? Hahaha... Ayo, tunjukkan semangatmu! Kamu pantas bahagia.

 

Langit: Mulai deh kamu menggodaku! Kamu memang nggak pernah berubah. Tapi aku suka caramu menyemangatiku.

 

Jingga: Hahahaha... Cuma candaan kecil aja, biar perasaanmu nggak terpuruk lagi. Maaf kalau berlebihan — aku cuma ingin lihatmu tersenyum. Senyummu bisa bikin cerah hariku.

 

Langit: Nggak apa-apa. Oh ya, karena kamu ada di sini, aku mau cerita sedikit tentang usahaku sembuh kemarin. Kamu mau dengar? Mungkin agak panjang, tapi harap nggak bosan. Ingin berbagi semua yang kurasakan padamu.

 

Jingga: Silakan. Aku nggak akan bikin kamu bisu. Apa yang mau diceritakan? Siap mendengarkan — aku akan selalu ada untukmu.

 

Langit: Seminggu yang lalu, aku ketemu gadis cantik di "ujung harapan" itu. Dia juga bikin aku sadar apa yang kulakukan selama ini... Ternyata aku salah. Dia membuka mataku ke banyak hal. Seperti malaikat yang datang di saat yang tepat.

 

Jingga: Lalu? Apa dia bikin kamu bahagia?

 

Langit: Iya. Dia membuka caraku memandang sekitar. Dan dia yang bikin aku jatuh hati padanya. Ada sesuatu yang berbeda saat bersamanya — bikin aku merasa hidup kembali.

 

Jingga: (Terdiam sejenak) Kamu suka sama dia? Serius? Yakin dengan perasaanmu?

 

Langit: Sepertinya begitu. Aku nggak bisa memungkiri. Setiap kali melihatnya, jantungku berdebar kencang.

 

Jingga: (Suaranya mulai bergetar) Lalu, bagaimana denganku, Langit? Apa aku tidak berarti apa-apa? Apa persahabatan kita selama ini tidak cukup buatmu mempertimbangkan perasaanku?

 

Langit: Maaf, Jingga. Lebih baik kita cuma sahabatan aja ya. Aku nggak mau hubungan pertemanan yang baik ini hancur karena perasaan. Semoga kamu bisa temukan orang yang lebih baik dariku — yang bisa memahami, mengerti, dan sayang sama kamu seperti yang kamu inginkan. Aku nggak ingin menyakitimu lebih jauh. Aku tidak pantas untukmu.

 

Jingga: (Menahan tangis) Aku hanya ingin kamu, Langit — bukan yang lain! Apa kamu nggak bisa mempertimbangkannya? Apa aku kurang buatmu? Sebulan yang lalu, aku merasakan kenyamanan di dekatmu. Kamu bisa berikan segalanya... Tapi kenapa semuanya jadi begini? Kenapa?! Aku mencintaimu, Langit.

 

Langit: Aku nggak mau kita jadi asing kalau nanti tidak bisa bersama. Bukankah aku udah jelaskan itu saat pertemuan pertama? Kenapa kamu masih tanya? Aku nggak ingin ulang kesalahan yang sama. Takut menyakitimu.

 

Jingga: Apa kamu tahu? Setelah kejadian itu, aku selalu pikirkanmu — dan hari ini akhirnya bisa bertemu. Tapi... bukan ini yang aku mau, Langit! Benar kata orang, langit yang indah nggak mudah digapai... begitu juga denganmu. Ternyata, aku bukan orang yang kamu mau. Hatiku hancur berkeping-keping. Merasa bodoh karena telah jatuh hati padamu.

 

Langit: Maafkan aku... Maafkan aku. Aku nggak bermaksud bikin kamu sakit hati. Aku cuma... nggak mau kamu terluka lebih dalam nantinya. Harap kamu bisa mengerti. Semoga suatu hari nanti bisa memaafkanku.

 

Jingga: Aku mengerti, Langit. Aku yang salah. Terlalu berharap. Mungkin memang kita nggak ditakdirkan bersama. Takdir memang kejam. Tapi aku nggak akan pernah menyesal telah mencintaimu.

 

Jaga diri baik-baik ya, Langit. Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu. Aku pamit dulu. Selamat tinggal.

Komentar

Postingan Populer