Unggulan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
SEMBUH BERSAMA PART III
Karya: Bintang[R]
Banten, 30 Agustus 2025
Di sebuah coffee shop yang ramai, dengan hiruk-pikuk kendaraan yang tak henti berlalu di jalanan, Jingga dan Langit bertemu secara tidak sengaja. Pertemuan itu terjadi di tengah kesibukan kota yang tak pernah tidur. Mereka duduk berhadapan, mulai berbagi cerita tentang apa yang telah terjadi — tanpa menyadari bahwa pertemuan yang tampak biasa ini akan membawa mereka ke pusaran konflik yang jauh lebih dalam dari yang mereka bayangkan. Aroma kopi yang memenuhi ruangan menjadi saksi bisu dari percakapan yang akan mengubah hidup mereka.
Jingga: Langit! Kenapa kamu ada di sini? Apa kamu juga suka kopi sekarang?
Langit: Hai, Jingga. Aku memang sudah biasa ke sini. Kopi di sini nikmat banget, dan aku suka suasananya yang tenang di tengah hiruk-pikuk kota. Tempat ini kasih inspirasi dan ketenangan.
Jingga: Hmm... jadi kamu suka kopi sekarang? Sejak kapan? Setahuku, selama ini kamu nggak menyukainya. Dulu selalu bilang kopi pahit dan tidak enak. Apa yang bikin berubah pikiran?
Langit: Entahlah, Jingga. Di sini aku menemukan rasa damai yang kurindukan. Bersama aroma dan kepulan asap kopi yang khas, semua terasa menenangkan jiwa. Mungkin kopi ini mengingatkanku pada sesuatu yang hilang, atau mungkin aku cuma mencari pelarian dari kenyataan.
Jingga: Oh, jadi begitu. Berarti kita sama ya, sama-sama suka kopi di sini. Mungkin bisa sering bertemu di sini untuk menikmati bersama.
Langit: Iya, Jingga. Oh ya, dari mana kamu tahu dulu aku nggak suka kopi? Apa kamu sering memperhatikanku?
Jingga: Maaf ya, Langit. Dulu aku sempat tidak sengaja dengar pembicaraan teman-temanmu. Makanya tanya sejak kapan kamu suka. Bukan maksudku menguping, sungguh.
Langit: Ya, sekitar dua minggu belakangan. Mulai bisa menikmati rasa kopi. Walaupun pahit, tapi di sini jauh lebih enak daripada tempat lain. Mungkin karena barista punya resep rahasia, atau suasana yang bikin lebih nikmat.
Jingga: Oh, jadi begitu ya.
Langit: Iya. By the way, aku mau bilang sesuatu. Maaf ya, Jingga, tentang kejadian di taman kemarin. Aku bikin kamu menangis dan kecewa. Tapi sungguh, nggak ada maksudnya. Aku cuma kalut dan nggak tahu harus berbuat apa.
Jingga: Iya, Langit. Tidak apa-apa. Jangan pikirkan lagi. Aku sudah merasa baik kok... walaupun masih sedikit kecewa sih, sebenarnya. Tapi percaya kamu punya alasan sendiri.
Langit: Aku sangat mengecewakanmu. Menyesal bikin wanita secantik kamu menangis di hari itu. Sekali lagi maafkan aku. Merasa bersalah menyakitimu.
Jingga: Sudah kukatakan, jangan bicarakan lagi. Aku nggak mau peristiwa menyakit itu terbuka lagi. Sudah menutup kenangan itu jauh di dasar hati. Ingin melupakan semuanya dan memulai lembaran baru.
Langit: Maafkan aku, Jingga.
Jingga: Oh ya, bagaimana kabar wanita yang kamu temukan di ujung harapan? Sudah ada hubungan? Apa dia bikin kamu bahagia?
Langit: Entahlah, aku bingung mau jawab seperti apa. Tidak tahu apa yang sebenarnya kurasakan.
Jingga: Jawab saja dengan apa yang kamu rasakan. Aku nggak akan menyangkalnya. Janji. Ingin tahu yang sebenarnya.
(Langit tarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan)
Langit: Sebenarnya, aku nggak ada hubungan apa-apa dengannya, Jingga. Hanya tertarik pada apa yang dia ucapkan dulu, ketika aku masih terjebak di labirin masa lalu. Dia ubah hidupku seperti taman bunga yang penuh warna. Tapi setelah mengenalnya lebih jauh, perlahan dia ubah semua jadi hutan belantara yang sunyi dan menakutkan. Lalu dia hilang begitu saja, tanpa menjelaskan apa pun. Rasanya seperti dipermainkan dan dibohongi.
"Aku bingung waktu itu — tidak tahu hidup harus dibawa ke mana. Semua jalan ditutup, aku berhenti melangkah. Benar-benar putus asa. Hingga akhirnya tersadar: seseorang yang dulu peduli, yang selalu temani suka dan duka, bahkan menaruh hati padaku — aku lukai, kecewakan, bahkan gores hatinya begitu dalam. Akulah penyebab air matanya jatuh. Sungguh menyesal, Jingga. Tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Rasanya seperti orang bodoh yang tidak bisa lihat ketulusan cinta di depan mata."
Jingga: Sudahlah, Langit, nggak perlu merasa bersalah begitu. Mungkin itu ujian Tuhan untukmu. Dan aku sudah memaafkanmu sejak lama. Dulu aku juga sama: semua terasa seperti taman bunga ketika kata-katamu menyapa. Tapi perjuanganku untuk memilikimu pupus begitu saja, bagaikan gelas kristal yang pecah — tak mungkin diperbaiki. Dan kamu juga sudah temukan gadis impianmu saat itu. Pikir tugasku selesai menemanimu, dan kamu sudah keluar dari masa kelam. Hanya ingin kamu bahagia, meskipun bukan bersamaku.
Langit: Maaf, Jingga. Dulu aku begitu egois terhadapmu. Jujur, nggak ingin merusak hubungan pertemanan kita yang berharga. Tapi setelah kamu tidak ada lagi di sampingku, aku baru menyadarinya. Maafkan aku atas segala kebodohanku. Baru tahu betapa berharganya kamu dalam hidupku.
(Beberapa menit kemudian, suasana hening menyelimuti mereka)
Langit: Jingga, bolehkah aku mengatakan sesuatu yang penting? Sesuatu yang sudah lama ingin kukatakan?
Jingga: Tentu saja. Bicaralah, aku mendengarkan. Selalu ada untukmu.
Langit: Aku... aku suka padamu, Jingga. Aku... aku mencintaimu.
Jingga: Apa, Langit? Coba ucapkan lagi, mau pastikan tidak salah dengar. Tidak percaya ini.
Langit: Ya... aku menyukaimu, Jingga. Sungguh-sungguh dengan perasaanku ini. Sudah lama memendamnya, tapi terlalu takut untuk mengungkapkannya.
Jingga: Apa tidak salah dengar? Tapi, maafkan aku. Sekali lagi maaf. Kamu tahu, tiga hari yang lalu ada laki-laki yang sangat baik mengajakku berkencan, lalu mengatakan perasaannya dengan tulus. Dia orang yang selalu ada untukku, suka dan duka.
Langit: Lalu? Apa kamu menerimanya?
Jingga: Dia bercerita banyak tentang pengalaman pahit dan manisnya. Dia yang sabar menemaniku ketika aku kehilanganmu. Memberikan sandaran yang nyaman ketika aku rapuh dan tak berdaya. Sedikit waktu aku sempat pikirkan hatiku untukmu, Langit. Tapi logikaku bermain. Maafkan aku karena tidak bisa membalas perasaanmu. Tidak bisa mengkhianati orang yang sudah begitu baik padaku.
Langit: Jadi kamu menerimanya? Apa kamu bahagia bersamanya?
Jingga: Iya, aku menerimanya. Karena dia yang tetap tinggal di sisiku, meski tahu saat itu hatiku masih memilihmu. Dia bisa meyakinkan aku bahwa dia bisa mencintaiku lebih dari yang aku tahu. Dia yang merasakan sakitnya menjadi aku dulu. Tapi lama-kelamaan aku luluh dengan ketulusannya yang tak terbatas. Maaf ya, Langit. Jangan minta aku kembali padamu. Karena di sana, hatinya menungguku dengan kehangatan dan cinta tulus. Tidak bisa menerimamu — ada hatinya yang harus kujaga dengan segenap jiwa dan raga. Meskipun di bagian kecil hatiku masih tersimpan namamu, tapi nggak ingin menyakitinya seperti aku dulu. Ingin dia bahagia bersamaku.
Langit: Tapi, Jingga... mohon beri aku kesempatan. Janji akan membahagiakanmu.
Jingga: Maaf, Langit. Kamu sudah terlambat. Waktu tidak bisa diputar kembali. Aku sudah memilih, dan tidak akan menyesalinya.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Postingan Populer
RINDU YANG TAK PERNAH AKAN PULANG
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar