Langsung ke konten utama

Unggulan

PERPISAHAN DIUJUNG MUARA

Karya: Bintang[R] Banten, 28 Desember 2025 sore hari, di tepi muara yang luas.  Air sungai bertemu dengan laut, warna coklat muda bersatu dengan biru gelap.  Matahari terbenam menyebarkan cahaya kemerahan di langit.  Dua sosok berdiri berdampingan, tapi jarak hati mereka terasa jauh.  Di tangan Lira, ada sehelai kain batik tua yang kusut.   LIRA: Lihatlah, Raihan. sungai ini tahu jalan keluarnya. Mencari laut yang lebih luas, meskipun harus meninggalkan dan semua pohon yang menanti di tepiannya... Raihan ini kain yang kau berikan padaku, waktu kita pertama kali datang ke sini.  Dan kau katakan,  "ini untukmu, agar selalu ada bagianku di dekatmu."   RAIHAN: Aku ingat Lira.  Kau memakainya saat hujan turun, dan kita bersembunyi di bawah pohon beringin. Kau tertawa dan bilang,  "aku ingin tinggal di sini selamanya denganmu, di antara sungai dan laut."   LIRA: Di ujung muara ini, semua air lupa asal-usulnya. Apakah kita juga akan lupa? ...

SEMBUH BERSAMA PART IV

 Karya: Bintang[R]

Banten, 4 September 2025

 

 Di tengah senja yang merangkul cakrawala, dua insan dipertemukan kembali oleh takdir. Langit dan Jingga — dua nama yang pernah terukir dalam satu hati — kini berdiri berhadapan setelah sekian lama terpisah. Pertemuan ini, di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk kota, menyimpan tanya yang membara: apakah ini kesempatan kedua, atau hanya ilusi semata?

 

Langit: Jingga? Mungkinkah mataku tak salah melihat? Benarkah ini engkau di hadapanku? Seperti sedang bermimpi di siang bolong. Setelah sekian lama, takdir mempertemukan kita lagi di tempat yang tak terduga.

 

Jingga: Langit? Di antara riuh dunia yang fana, takdir mempertemukan kita lagi di sini? Sedang apa kamu? Apakah juga mencari kedamaian seperti yang kurasakan?

 

Langit: Ah, Jingga... Hanya mencari ketenangan di antara senja yang mulai meredup. Duduk termenung, meresapi warna-warna langit yang memudar, berharap menemukan jawaban atas kerinduanku yang tak berujung. Bagaimana kabarmu? Lama tak bersua — banyak hal yang ingin kutanyakan, terutama tentang hatimu yang selalu kurindukan.

 

Jingga: Aku baik, Langit. Meskipun begitu, ada riak kecil dalam samudra pikiranku yang tak pernah tenang. Gelombang keraguan yang sesekali menghantam, membuatku sulit bernapas lega. Seperti perahu kecil yang terombang-ambing di lautan yang luas.

 

Langit: Tapi Jingga, kulihat pancaran matamu tak lagi sehangat mentari pagi seperti dulu. Ada kerisauan di balik senyummu yang manis? Apa yang mengusik hatimu? Jangan sungkan bercerita — aku ada di sini, siap mendengar segala keluh kesahmu. Selalu ada untukmu.

 

Jingga: Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku mampu mengatasi semua ini. Mungkin hanya kelelahan akibat padatnya aktivitas. Langit, jangan biarkan kerutan di dahimu bertambah karena memikirkanku. Aku baik-baik saja, sungguh. Percayalah.

 

Langit: Rindu ini sudah menggunung. Sudah terlalu lama tak kulihat senyum teduhmu yang menenangkan jiwa. Maafkan kelancanganku, tapi sejujurnya bayangmu selalu hadir dalam setiap langkahku — menghantuiku siang dan malam. Ada hasrat yang membara untuk mendengar suaramu, menanyakan kabarmu — bahkan aku mencari tahu tentangmu dari orang lain. Ingin berkisah tentang hari-hari ku, seperti dulu saat kita bersama. Sayangnya, keberanianku selalu menguap saat ingin mendekatimu.

 

Jingga: Langit... Aku... tak tahu harus berkata apa. Kata-kata terasa begitu sulit.

 

Langit: Tak perlu kata-kata. Aku tahu, dalam hatimu mungkin ada keraguan besar. Mungkin kau akan menolakku seperti dulu. Tapi apa dayaku? Rindu ini terlalu kuat untuk kupendam. Menggerogoti setiap sudut hatiku, membuatku tak bisa bernapas lega. Ingin kurasakan hangat pelukanmu, seperti dulu saat saling mencintai. Sayangnya, yang kutemui hanyalah bayangan semu — ilusi yang menyakitkan.

 

Jingga: Langit, dengarkan aku baik-baik... ada hal penting yang harus kau ketahui. Ini akan mengubah segalanya.

 

Langit: Tidak, Jingga. Jangan larang aku lagi mencintaimu. Jangan biarkan aku tetap pengecut yang bersembunyi di balik bayang-bayang masa lalu. Cukup sudah penderitaan ini. Ketahuilah, cintaku padamu tak pernah lekang oleh waktu — tetap membara, sehangat mentari pagi yang menyinari bumi.

 

Jingga: Langit! Cukup! Hentikan semua ini! Apakah pantas kau ucapkan itu padaku? Apakah lupa, bahwa aku telah menjadi milik orang lain? Wajarkah menyatakan perasaanmu, padahal tahu keadaanku? Aku sudah berjanji pada seseorang! Berhentilah mengharapkanku! Jangan sakiti hati yang sedang kujaga dengan susah payah!

 

Langit: Tak semudah itu menghentikan badai yang berkecamuk dalam hatiku. Perasaan ini telah berakar terlalu dalam, merasuki setiap sel tubuhku. Tak mampu menghapusnya, meski telah coba berkali-kali. Izinkan aku, Jingga. Beri aku kesempatan terakhir. Izinkan aku membuktikan bahwa aku bisa membahagiakanmu, bahwa aku pantas untukmu. Izinkan aku memenangkan kembali hatimu yang lama kurindukan. Ingin kujaga dirimu dari semua resah, ingin kubahagiakanmu dengan cinta yang tulus dan abadi. Kumohon, izinkan aku — jangan biarkan penyesalan menghantuiku seumur hidupku.

 

Jingga: Sudahlah, Langit. Kau harus ingat, ada hati lain yang harus kujaga. Ada janji yang harus kutepati. Tak ingin orang lain merasakan sakit yang pernah kurasakan — mencintai seseorang tapi harus merelakannya. Tak ingin kurasakan lagi pedih pengkhianatan dan kehilangan yang mendalam.

 

Langit: Apakah kau bahagia bersamanya? Apakah mencintainya sepenuh hati, tanpa keraguan? Apakah merasa nyaman dan aman di sisinya, seolah dunia hanya milik kalian berdua? Ingin tahu yang sebenarnya.

 

Jingga: Aku...

 

Langit: Apakah kau benar-benar menginginkannya dalam hidupmu? Apakah dia pelabuhan terakhirmu? Apakah kau melihat masa depan bersamanya?

 

Jingga: Cukup, Langit! Aku... tak tahu apa yang harus kujawab... Seperti berada di persimpangan jalan yang membingungkan.

 

Langit: Jawab aku dengan jujur. Jangan biarkan aku hidup dalam kebingungan yang tak berujung. Apakah hatimu benar-benar miliknya sepenuhnya? Apakah tak ada sedikit pun ruang untukku? Aku berhak tahu.

 

Jingga: Sudah cukup! Berhentilah menyiksaku dengan pertanyaanmu yang membuatku semakin terluka! Aku mohon, hentikan!

 

Langit: Kau tak bisa membohongi dirimu sendiri, Jingga. Aku tahu, jauh di lubuk hatimu yang paling dalam, ada kerinduan yang sama besarnya denganku. Berterus teranglah. Jujurlah pada dirimu sendiri, meski menyakitkan. Jangan biarkan kebohongan menghantuimu.

 

Jingga: Huft... Langit, aku lelah dengan semua ini. Butuh waktu untuk menenangkan diri, menjernihkan pikiranku yang kalut. Rasanya ingin menghilang sejenak dari dunia yang menyesakkan. Berhentilah mencariku. Jangan ganggu aku lagi. Karena saat ini, aku tak bisa kembali padamu. Tak tahu apa yang harus kulakukan. Permisi, aku harus segera pergi.

 

Langit: Baiklah, Jingga. Mungkin saat ini kau memilih menjauh, mencari jawaban atas keraguanmu. Tapi aku percaya, suatu hari nanti, kau akan menyadari bahwa akulah yang terbaik untukmu. Dan kau akan kembali padaku, kita akan memulai semuanya dari awal. Aku yakin itu akan terjadi. Cintaku akan selalu menunggumu sampai kapan pun.

 

Jingga: Langit, ada satu hal yang sangat penting yang harus kau tahu... Aku... aku sudah dijodohkan dengan orang lain. Tidak punya pilihan lain. Ini semua demi kebahagiaan keluargaku. Ini takdir yang harus kuterima.

 

Langit: Siapa dia, Jingga? Siapa yang telah merebutmu dariku? Apakah dia mencintaimu seperti aku?

 

Jingga: Dia orang yang sangat berpengaruh. Keluargaku berhutang budi padanya. Tidak bisa menolak perjodohan ini.

 

Langit: Tidak! Aku tidak akan pernah menyerah! Akan memperjuangkanmu sampai titik darah penghabisan! Akan membuktikan bahwa cintaku lebih kuat dari segalanya! Akan berjuang untukmu, Jingga!

 

Jingga: Jangan lakukan itu! Dia bisa menyakitimu! Bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang dia inginkan! Aku tidak ingin kau terluka!

 

Langit: Aku tidak peduli! Lebih baik mati daripada hidup tanpamu! Akan menghadapi siapa pun yang menghalangi cintaku!

Komentar

Postingan Populer