Unggulan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
SEMBUH BERSAMA PART V
Karya: Bintang[R]
Banten, 4 September 2025
Jingga mencari Langit dalam kehancurannya. Setiap kata yang terucap adalah pecahan dari hatinya yang hancur — sebuah cermin yang retak, memantulkan rasa sakit yang tak terperi. Di tengah puing-puing kepercayaannya, Langit hadir sebagai harapan yang mungkin, atau ilusi yang berbahaya.
Jingga: Langit...
Langit: Jingga! Ada apa? Suaramu... seperti tercekik oleh sesuatu yang tak terlihat. Apa yang terjadi? Jangan bikin aku cemas begini. Katakan padaku, apa yang membebanimu?
Jingga: Aku... aku hancur, Langit. Semuanya... semuanya hancur berkeping-keping! Seperti kaca yang jatuh dari ketinggian — pecah dan mustahil untuk disatukan kembali.
Langit: Jingga, tenanglah. Tarik napas dalam-dalam, hembuskan perlahan. Aku di sini, bersamamu. Coba ceritakan perlahan: apa yang bikinmu terluka begitu? Siapa yang berani menyakitimu sampai gini?
Jingga: Dia... dia mengkhianatiku! Menusukku tepat dari belakang, tanpa ampun! Orang yang paling kucintai, yang kupercaya dengan segenap jiwa dan raga... dia menghancurkan hatiku jadi abu, membakarnya hingga tak bersisa! Merobek kepercayaanku, menginjak-injak harga diriku!
Langit: Kurang ajar sekali dia menyakitimu seperti ini! Siapa dia? Sebutkan namanya, biar kuhadapi dia! Biar dia merasakan akibat perbuatannya! Biar dia tahu rasanya dikhianati dan dihancurkan!
Jingga: Tidak ada gunanya! Semua sudah terlambat. Hatiku sudah mati rasa, tak bisa merasakan apa-apa lagi. Seperti mayat hidup yang berjalan tanpa tujuan — kosong... hampa... tak ada lagi harapan. Aku kehilangan segalanya... termasuk diriku sendiri.
Langit: Jangan bicara seperti itu! Kamu tidak boleh menyerah! Kamu wanita yang kuat, lebih kuat dari yang kamu kira. Aku di sini, selalu di sini. Akan membantumu melewati ini, selangkah demi selangkah. Akan jadi tamengmu yang melindungimu dari semua sakit. Jadi bahumu untuk bersandar, telingamu untuk mendengar, dan hatiku untuk merasakan apa yang kamu rasakan.
Jingga: Jangan sentuh aku! Aku jijik dengan diriku sendiri! Aku bodoh! Aku naif! Bagaimana bisa aku sebodoh itu mempercayainya? Aku pantas mendapatkan ini, Langit. Pantas menderita dan merasakan sakit yang tak berkesudahan! Pantas dihukum karena membuka hatiku untuk orang yang salah!
Langit: Jangan bicara omong kosong! Kamu tidak pantas menderita! Kamu wanita yang luar biasa, punya hati yang tulus dan penuh cinta. Kamu tidak bersalah di sini — dialah yang bersalah, dia yang menyia-nyiakanmu. Kamu bisa melewati ini, Jingga. Aku percaya padamu, selalu percaya.
Jingga: Aku tidak tahu... Tidak tahu apakah aku sanggup. Sakitnya... terlalu dalam, terlalu perih. Luka ini... terlalu menganga, terlalu sulit disembuhkan. Tidak yakin bisa sembuh, tidak yakin bisa kembali jadi diriku yang dulu. Aku takut... sangat takut.
Langit: Jingga, dengarkan aku baik-baik. Aku mencintaimu. Selalu mencintaimu, sejak pertama kali melihatmu. Tahu ini mungkin bukan waktu yang tepat, tapi tidak bisa lagi memendamnya. Ingin jadi orang yang menyembuhkan lukamu, yang isi kekosongan di hatimu, yang bantu kamu temukan kembali dirimu yang hilang. Ingin jadi alasanmu untuk tersenyum lagi, untuk percaya pada cinta lagi.
Jingga: Cinta? Jangan bicara tentang cinta! Cinta itu palsu! Cinta itu dusta! Hanya membawa penderitaan, air mata, dan kehancuran! Tidak ingin lagi mendengar kata itu! Aku muak dengan cinta!
Langit: Tidak, Jingga. Kamu salah. Cinta itu nyata. Cinta itu ada. Dan aku akan membuktikannya padamu. Akan tunjukkan bahwa ada cinta yang tulus, abadi, yang tidak akan pernah menyakitimu. Akan berikan cinta yang menyembuhkan semua lukamu, yang bikinmu merasa utuh kembali.
Jingga: Jangan mendekatiku! Tidak ingin melihatmu! Ingin sendiri! Pergi dari sini! Biarkan aku sendirian dengan penderitaanku!
Langit: Aku tidak akan pergi. Tidak bisa meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini. Akan tetap di sini, apa pun yang terjadi. Akan menunggumu sampai kamu siap — sampai kamu bisa mencintaiku, atau setidaknya menerima kehadiranku. Selalu ada di sini untukmu: sebagai teman, sahabat, atau apa pun yang kamu inginkan.
Jingga: Aku tidak bisa! Tidak bisa mencintai siapa pun lagi! Hatiku sudah mati! Terlalu banyak luka, terlalu banyak kekecewaan. Tidak sanggup lagi membuka hatiku untuk siapa pun.
Langit: Aku akan menghidupkan kembali hatimu, Jingga. Aku berjanji. Akan berikan cinta yang tak pernah kamu rasakan sebelumnya — cinta yang menyembuhkan semua luka dan trauma masa lalu. Cinta yang bikinmu merasa aman, nyaman, dan dicintai tanpa syarat. Akan bantu kamu membangun kembali dirimu yang hancur, selangkah demi selangkah.
Jingga: Benarkah, Langit? Benarkah kamu bisa melakukan itu? Benarkah kamu bisa mencintaiku setelah semua yang terjadi? Benarkah kamu bisa menyembuhkan hatiku yang sudah hancur berkeping-keping?
Langit: Aku bersumpah. Akan melakukan apa pun untukmu. Akan berikan seluruh hidupku padamu, jika itu bisa bikinmu bahagia. Mencintaimu tanpa syarat, tanpa batas, tanpa akhir. Selalu ada di sini — dalam suka dan duka, dalam keadaan apa pun. Akan menjagamu, melindungimu, dan mencintaimu selamanya.
Jingga: Aku takut... sangat takut... Takut jika memberikanmu kesempatan, aku akan menyakitimu lagi. Takut jika tidak bisa membalas cintamu. Takut jika tidak pantas mendapatkanmu.
Langit: Aku akan melindungimu. Tidak akan biarkan siapa pun menyakitimu lagi, termasuk dirimu sendiri. Selalu ada di sini untuk membimbing, mendukung, dan mencintaimu tanpa henti. Kamu pantas mendapatkan yang terbaik di dunia — dan aku ingin menjadi yang terbaik itu untukmu. Biarkan aku membuktikan cintaku. Biarkan aku menyembuhkan hatimu. Biarkan aku mencintaimu selamanya.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Postingan Populer
RINDU YANG TAK PERNAH AKAN PULANG
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar