Langsung ke konten utama

Unggulan

PERPISAHAN DIUJUNG MUARA

Karya: Bintang[R] Banten, 28 Desember 2025 sore hari, di tepi muara yang luas.  Air sungai bertemu dengan laut, warna coklat muda bersatu dengan biru gelap.  Matahari terbenam menyebarkan cahaya kemerahan di langit.  Dua sosok berdiri berdampingan, tapi jarak hati mereka terasa jauh.  Di tangan Lira, ada sehelai kain batik tua yang kusut.   LIRA: Lihatlah, Raihan. sungai ini tahu jalan keluarnya. Mencari laut yang lebih luas, meskipun harus meninggalkan dan semua pohon yang menanti di tepiannya... Raihan ini kain yang kau berikan padaku, waktu kita pertama kali datang ke sini.  Dan kau katakan,  "ini untukmu, agar selalu ada bagianku di dekatmu."   RAIHAN: Aku ingat Lira.  Kau memakainya saat hujan turun, dan kita bersembunyi di bawah pohon beringin. Kau tertawa dan bilang,  "aku ingin tinggal di sini selamanya denganmu, di antara sungai dan laut."   LIRA: Di ujung muara ini, semua air lupa asal-usulnya. Apakah kita juga akan lupa? ...

DIRI YANG MERINDUKAN TANGAN YANG DINGIN

 karya: bintang[R]

banten, 18 Desember 2025

Revisi



Di tengah hujan yang membasahi wajah panas,

aku berdiri sendirian, merenungkan bayangan

tangannya yang dulu menyentuh dengan lembut,

sekarang, hanya angin yang menyentuh pipiku yang basah.

 

Tangannya yang dingin, seolah es di musim semi,

yang menyegarkan jiwa yang lelah berjalan

di jalan raya yang panjang dan sunyi.

Hanya bayangannya yang kuhadapi setiap hari.

 

Aku merindukan sentuhan yang tidak lagi ada

yang membuat hatiku berdebar tanpa alasan.

Tangannya yang dingin, jadi pelita di kegelapan,

membimbing langkahku saat aku tersesat.

 

Di malam hari yang sepi dan dingin,

aku menggenggam udara, berharap ada yang terasa.

Tangannya yang dulu kupegang erat

sekarang hanya kenangan yang membeku di hatiku.

 

Kau pergi tanpa kata pamit,

meninggalkan aku dengan kerinduan yang dalam.

Tangannya yang dingin, jadi bagian dari diriku yang selalu kuingat, meskipun waktu telah berlalu.

 

Hujan berhenti, matahari muncul perlahan,

menyinari bumi yang basah dan segar.

Tetapi dingin tangannya tetap ada

di dalam dada yang masih kosong dan sepi.

 

Aku berjalan lagi, dengan langkah yang lebih tegas,

tapi setiap batu yang kujumpai

mengingatkanku pada jejak yang dulu kita buat bersama

dengan tangannya yang dingin yang selalu kupegang.

 

Di pohon yang dulu kita duduki bersama,

aku duduk sendirian, melihat awan melayang,

merenungkan masa lalu yang tidak akan kembali—

hanya kerinduan yang terus tumbuh di hatiku.

 

Tangannya yang dingin, jadi lagu yang selalu kubunyikan

di dalam hati yang penuh dengan kenangan—

yang membuatku kuat, meskipun hidup terasa berat,

yang membuatku ingat: kau pernah ada di sisiku.

 

Meskipun kau jauh, tak akan kembali lagi,

kerinduanku pada tangannya yang dingin tidak akan hilang

selalu ada di dalam diriku,

sebagai bagian dari hidup yang pernah kujalani.

 

Akhirnya aku mengerti: kerinduan itu bukan rantai,

melainkan bunga yang mekar di hati yang tenang.

Tangannya yang dingin, sekarang jadi cahaya yang lembut

menerangi jalanku, meskipun kau tak lagi disamping.

 

Aku melihat ke depan, dengan senyum yang lembut,

menyambut hari baru yang masih menunggu.

Kerinduanku tetap ada, tapi tidak lagi menyakitkan

hanya kenangan indah yang selalu kubawa pergi.

Komentar

Postingan Populer